Thursday, 31 December 2015

Dua Cerita di Akhir Tahun

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Thursday, December 31, 2015 0 comments
365 of 365.
Selamat datang 2016. Semoga semesta berpihak kepadamu.
Selamat tinggal 2015. Terima kasih atas segala kenangan yang telah engkau lukiskan.

Tahun 2015 bentar lagi habis. Digantikan oleh tahun 2016, yang menuntutku buat lebih giat belajar lagi. Kan bentar lagi Ujian. Itu artinya, gak lama lagi aku lulus.

Ceritanya berawal dari libur panjang di akhir tahun ini yang jujur aku gak ngapa-ngapain. Gak ke mana-mana juga.
Tapi aku mau cerita sedikit boleh ya? Ada dua cerita sih. Dua cerita di akhir tahun. Aku mulai dari yang ini dulu deh.

Jadi ceritanya, tanggal 16 Desember 2015 kemarin aku ikut lomba Menulis Huruf Jawa. Yang ngadain Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Yogyakarta. Tempat lombanya di Grhatama Pustaka.

Alhamdulillah. Aku bersyukur banget bisa juara 1. Padahal awalnya aku pesimis banget. Pesertanya ada 100 lebih. Soal yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Jadi kita harus mentranskrip huruf latin ke huruf jawa, dan itu 6 paragraf. Edan. Waktunya pun Cuma 1,5 jam. Mana pas-pasnya di aku soalnya habis pula. Alhasil aku kudu nunggu panitia nyari soal. Terus aku minta ekstra waktu 6 menit. Dikasihnya 5 menit. Huft gatau apa kadar soalnya segitu.

Pengumumannya kan keesokan harinya, tanggal 17 Desember via Fanpagenya BPAD di Facebook pukul 10:00 WIB. Jadi gak usah ke sana, cukup lihat di handphone aja. Nah, kebetulan jam segitu aku masih pelajaran kimia. Jujur aja selama pelajaran aku gak konsentrasi. Maaf ya Pak Guru. Dan pas udah jam sepuluh tepat, aku buka webnya. Aku kaget banget! Seketika aku langsung teriak sambil bawa handphone di tanganku. Otomatis semua anak kelas lihatin aku dong. Tak terkecuali Pak Guru. “Ada apa, mbak?”

Masih deg-degan. “Nggak apa-apa, Pak”

Seneng. Seneeeeeng banget. Terima kasih Tuhan, udah ngasih aku kesempatan buat juara. Aku gak henti-hentinya bersyukur. Sampai pelajarannya selesai.

“Ri, tadi pelajarannya bahas apa aja ya?”
(Riri teman semejaku)

Terus terus...
Penerimaan hadiah kan tanggal 21 Desember di gedung tempat aku lomba. Malam itu pukul tujuh, sekalian launching perpustakaan. Soalnya itu gedung baru. Tamunya buanyak. Eh ternyata di sana aku juga ketemu teman seperjuanganku di budaya Jawa. Namanya Aldi. Kenal dia sejak kelas 5 SD. Ya gini, kami selalu dipertemukan di event budaya Jawa. Dia juara Macapat. Dia mah jago.

Seneng banget pas namaku dipanggil dan maju ke panggung. Ditonton banyak orang. Apalagi itu adalah acara launching perpustakaan terbesar se-ASEAN. Berasa tamu kehormatan.
Ini trophynya. Kalau piagamnya nempel di dinding tuh. Nggak mau diajak foto katanya. Hihi.




Cerita kedua.
Pasti semuanya ngrasain. Pas lagi sibuk sekolah pengen cepet-cepet libur. Tapi kalau kelamaan liburnya, pengen cepet-cepet masuk sekolah. Iya kan?

Bersamaan dengan penerimaan rapor akhir semester, itu berarti libur dimulai. Libur tlah tiba. Libur tlah tiba. Hore hore hore! Tapi seriusan deh libur kali ini berasa lama banget. Udah kangen nih. Kangen...siapa? hmmm. Bosen juga di rumah.

Untung saja.

Pulang dari Depok Jawa Barat, kakakku bawain aku ini.



Dilan!

Aku senengnya minta ampun. Seenggaknya liburanku gak hampa-hampa banget.

Suka banget sama novel yang satu ini. Kisah cinta tahun 90an emang sederhana tapi asik ya?
Berhubung aku juga suka banget novel atau drama yang bertema cinta-cintaan, teenlitlika-liku remaja atau apalah. Dan ya... Walaupun yang nulis ini (emang) jomblo, tapi kebanyakan semua karakter cowok di teenlit ataupun novel romance bisa mengikat hati wanita (termasuk saya) dan merasa gak jomblo lagi. Apalagi novel yang ini!

Penulisnya emang hebat banget. Pidi Baiq. Bisa nyulap imajinasiku jadi terbang ke mana-mana. Aku gak akan nge-resensi ya. Cuman mau ngenalin sedikit tentang sosok Dilan aja. Dilan adalah seorang yang susah ditebak, humoris dan romantis, tapi ngeyel. Anak geng motor. Cinta banget sama Milea. Dan cintanya tuh lucu. Asik. Coba aja ada orang kayak Dilan di jaman yang sama denganku. Dan di kota yang sama. Di sekolah yang sama. Sayangnya gak ada. Huhu Dilaaaaaan... Jatuh cinta sama Dilan...
Kalau di dunia ini ada dilan-dilan yang lain, aku mau pesen satu!
Jadi pengen punya pacar kayak Dilan...!

Kalau kamu baca, dijamin langsung senyum-senyum sendiri, deh.

“Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu.
Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

Ha ha. Novelnya bikin aku gak pernah berhenti buat baca. Habis seru sih! Mumpung libur panjang sementara rumahku (yang bagian depan) lagi di renovasi, kuhabiskan hariku buat baca Dilan di kamar. Tapi juga tetep bantu-bantu Ibu dong. He he.

Tapi Dilan nyebelin. Nggak mau memperjuangkan Milea sampai akhir.
Dasar.


Aku ingat kata Dilan,

“Ah, gak apa-apa gak pacaran sama kamu juga, deh. Asal kamunya tetep ada di bumi. Udah cukup, udah bikin aku seneng.”


Tuh Naf. Bukankah cinta itu gak harus memiliki? Haha.
Jadi kamu jangan menghilang dari bumi ya? Ntar aku jadi sedih.

Dah ah, malah menjurus ke dia lagi.

Semoga kamu tidak keberatan membaca ceritaku hari ini. Hari ini... Hari terakhir di tahun 2015 ya. Waaaah...!
Walaupun belum tengah malam, aku mau mengucapkan: Selamat tahun baru 2016! Setiap tahun baru adalah awal baru. Ayo, cetak pengalaman manis dan membanggakan!


Salam ya dari yang bentar lagi mau lulus,
Nafi’ah

Tuesday, 8 December 2015

Ceritaku dan Hujan

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Tuesday, December 08, 2015 0 comments
Karena hujan yang menjadi alasan aku menetap.
Karena hujan yang menahanku untuk tidak pergi.
Karena hujan yang menyamarkan air mataku.

Tapi hujan. Kenapa kamu datang lagi setelah berulang kali terjatuh?
Apakah kamu memang seromantis itu?
Apakah aku harus sepertimu?
Rasanya aku tak sanggup.


Hari ini Jogja diguyur hujan lebat seharian.
Udah paham langit gelap ngasih kode bakal hujan masih aja nekad pergi. Tapi mau gimana lagi, ini udah direncana sejak lama sih. Pengen bikin tas serut motif bunga matahari. Ya karena di toko-toko gak ada yang jual tas bunga matahari, kalau bisa buat sendiri kenapa enggak? Hitung-hitung ngisi liburan sehari pasca-UAS. Jadi sore pukul 4.00 aku putuskan ke pusat kain terlengkap se Jogja. Tentunya bareng kembaranku. Karena yang nulis ini sudah dipastikan jomblo, sama siapa lagi. Sayangnya di tengah perjalanan turun hujan. Yaaah, gak seru nih mau masuk toko tapi basah-basahan. Katanya kamu suka hujan? Ya, aku memang suka hujan. Jadi gak apa lah ya basah sedikit. Lagipula pas berangkat hujannya belum deras-deras banget kok.

Dan sesampainya di toko, yang bikin kami berdua agak kecewa. Kami gak nemu satu pun kain yang bermotif bunga matahari. Huft. Syedih. Udah jauh-jauh plus nerobos hujan. Keliling satu ruangan dengan ratusan gulungan kain. Kainnya gak ada yang cocok. Mawar banyak sih. Tapi kan kami nyarinya bunga matahari, bukannya mawar. Sampai ngomel-ngomel sendiri dalam hati. "Kok gak ada sih, kalau aku punya pabrik aku bakal bikin produk kain motif bunga matahari yang banyak macemnya!"

“Padahal ini toko kain terlengkap. Mau ke mana lagi kalau toko-toko lain grosirnya di sini.”

Karena udah terlanjur jauh ke utara sedangkan rumahku di selatan, kami membulatkan tekad ke Toko Progo. Tujuannya sih beli apapun yang bercorak bunga matahari. Tapi hujannya makin deras. Kami nunggu bentar di parkiran toko kain sampai hujannya agak reda. Kalau dari toko kain mau ke Toko Progo tinggal lurus ke barat terus belok ke utara sedikit. Lihat hujan gini gak kerasa jadi kebawa ya. Tiba-tiba larut aja nih hati sama perasaan. Layaknya dalam drama mellow, aku jadi pemeran utamanya. Terus si dia jadi...ehm. Jadi apa dong? Haha.

Alhamdulillah, ada yang bisa ngobatin rasa kecewaku. Di lantai tiga Toko Progo ada florist. Jual beraneka macam bunga. Daaaaan ada bunga matahari! Bagus banget dan harganya cukup murah. Cukup Rp30.000,00 dapat sembilan tangkai. Udah sampai sini harus beli dong. Lupa deh tujuan utama.

Ini dia buktinya!
Masih dengan ambisi sebuah tas serut, kami coba ke Malioboro. Siapa tau di trotoar banyak yang jual. Tapi siap kecewa lagi nih gak ada tanda-tanda pedagang yang jual tas bunga matahari. “Habis tuntutan kita aneh-aneh sih, Mbak.”
Ya memang kalau dasarnya udah suka, apapun pasti akan diperjuangkan, bukan?

Memang kurang seru sih jalan di sepanjang Malioboro kalau lagi hujan. Timingnya gak pas nih.

Yaudah pulang aja kali ya. Duit cuma habis buat parkir.
Tapi masih deras dan makin deras. Gimana dong?
Gapapa, katanya kamu suka hujan?



Ceritaku dan hujan hari ini. Selama di jalan pengen cepet-cepet sampai rumah, takut orang tua khawatir. Nerobos hujan lebat pakai jas hujan yang lengannya udah sobek lebar. Percuma deh tetap basah kuyup. Baru kali ini perjalanan jauh hujan-hujanan sampai segitunya. Semoga gak flu deh.


Catch you later,

Nafi’ah

Saturday, 28 November 2015

Refrain

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, November 28, 2015 0 comments

Bagaimana jika ada satu hal sepele mengubah suatu pertemanan?
Kalau aku boleh memilih. Aku memilih ini semua gak akan terjadi. Bahkan kalau aku boleh meminta. Aku gak mau kenal dia.

Yang awalnya biasa. Lama kelamaan ada satu perasaan asing. Jujur ini semua dimulai dari kekaguman. Yang terus tumbuh menjadi rasa peduli. Perhatian. Kekhawatiran. Atau, bagaimana jika aku menyebutnya rasa suka?

Aku benci. Kenapa harus ada perasaan aneh ini?
Aku takut. Bagaimana kalau ini tidak baik?

Ya...ya. Aku sudah tau akibatnya. Kita gak seakrab dulu. Padahal dulunya sering ngobrol ini...ngobrol itu...bahas ini...bahas itu. Taunya sekarang makin jauh. Bahkan akhir-akhir ini aku takut menatap...

Entah mana yang benar. Kamunya yang menjauh, atau akunya yang terlalu kaku?
Ada dia kan? Sana...dia itu jauh lebih baik buatmu. Bukan ‘aku rela’ tapi ‘aku akan ikut senang’.

Ya memang inilah diriku. Ibarat bintang di langit. Bintang yang redup dan jauh akan kalah sama bintang yang terang dan terlihat, bukan? Tapi asal kamu tau. Sebenarnya di balik awan hitam itu, sang bintang-yang-kamu-sebut-redup punya cahaya yang gak kalah terang sinarnya. Hanya saja kamu tidak menyadarinya.

Tapi tiap kali aku menambah kadar kebencianku, walaupun ingin kutahan, justru rasa itu kembali lagi. Selalu teringat lagi. Menjadi suka lagi. Tidak berujung.

Aku ingin berhenti. Aku ingin menyerah. Tapi tidak bisa. Bagaimana?




Memang dasar.
Rasa suka ini tak tahu malu.
Datang lagi dan lagi menyusup ruang kalbu.
Rasa peduli ini teguh bertahan.
Meskipun tak pernah diperhatikan.
Rasa kagum ini kian menggebu.
Walau bahkan kau tak sadar
untuk siapa semua rasa itu.

Thursday, 29 October 2015

10 menit

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Thursday, October 29, 2015 0 comments
Jujur aku paling tidak suka yang namanya kegelapan.

Hari-hari di mana banyak tugas malah sering mati listrik. Karena sadar atau tidak, mati listrik itu sangat menghambat pekerjaan. Kayak sekarang ini. Baru aja mau ambil buku pelajaran di rak buat besok pagi eh seketika lampunya mati. Untung saja semua laporan praktikum udah selesai. Kecuali Fisika. Kelupaan -_- Jadi belum bisa dibilang semuanya udah selesai, ya?

Karena lampu padam alias seisi rumah jadi gelap, aku putuskan buat main laptop. Sambil nyemil kue setoples. Mau mati lampu sekalipun, kalau nyemil makanan tetep gak salah ambil ya. Nulis atau ngapain deh yang penting ada kerjaan. Untung saja baterai laptopnya belum habis. Tapi aku mau cerita apa ya... Pengalaman hari ini, boleh?


Hari ini seperti biasa aku berangkat sekolah dengan maticku, dan menghabiskan waktu di sana. Sekarang aku bisa menyebut sekolahku sebagai rumah. Tujuh setengah jam duduk mendengarkan penjelasan guru. Senangnya pelajaran hari ini gak begitu berat. Olahraga, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan seni lukis. Tapi entah kenapa kepalaku sakit muter-muter gitu. Sampai sekarang. Satu-satunya alasan yang logis menurutku, karena tadi roll belakang 20 kali plus handstand, mungkin? Selesai jam olahraga seketika jadi ngantuk banget. Kepala mendadak berat. Mana tugas bahasa Indonesia belum kelar. Ngitung jumlah kata artikel di majalah. Ditambah lagi bikin lima belas kalimat konjungsi bahasa Inggris. Salah sih paginya udah ngomong “Asik hari ini pelajarannya enteng. Lumayan lah.” Dan kenyataannya gini.

Eeeh masih sisa 5 menit aku nulis di sini.
Mau nulis apa lagi ya?


Oiya kamu tau? Belum lah kan aku belum ngasih tau. Oke deh sekarang tak kasih tau mau gak? Tak anggap iya aja deh.

Tragis. Aku sempet jatuh di kelas pas pelajaran seni lukis. Jadi ceritanya aku dan temenku berempat duduk melingkar satu meja. Niatnya nyelesaiin lukisan eh dikasih bumbu ngobrol. Salah satu temenku yang duduk di pojok -nempel dinding- dipanggil bapak guru buat ke depan lapor tugas lukisnya. Entah kenapa pas-pasnya aku berdiri, dia lewat belakang dan mindahin kursiku. Alhasil pas aku mau duduk kursinya udah ilang duluan. Berasa duduk melayang. Dan bruk! Yang jelas ada perpaduan keluhan plus tawa waktu itu. Akunya sakit malah diketawain. Apalagi anak yang duduk di belakangku. Puas banget ketawanya. Dasar.

Udah bertulang agar-agar efek senam lantai, masih dikasih bonus jatuh. Huft pedih.


Eh listriknya udah nyala! Akhirnya... Aku lanjutin belajarku ya!



Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?

Thursday, 22 October 2015

Cerita Sebentar : Kejutan!

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Thursday, October 22, 2015 0 comments
Seperti yang pernah aku katakan dulu, bukan hidup namanya kalau tidak menghadirkan banyak kejutan.


Satu minggu di bulan Oktober menjadi hari-hari yang paling menyiksa. Aku sakit. Sakit yang bisa dibilang sepele banget  sih, pilek.

Dimulai dari praktikum tiap Senin, Selasa, Rabu. Ini wajib bagi anak XII IPA. Ditambah latihan tonti dari selesai praktikum sampai pak satpam niup peluitnya yang super duper kenceng alias jam lima sore waktunya anak-anak pulang. Namanya aja tonti, baris-berbaris. Gak mungkin kalau gak capek, haus, pegel-pegel, plus ngos-ngosan. Nah, ini dia awalnya. Haus itu tadi yang menjadi alasan aku beli es jeruk tiap hari sehabis latihan. Alhasil, sekarang gini deh jadinya (meler). Sekarang aja aku nulis sambil sentrap-sentrup. Duh apa ya bahasa yang lebih enak selain ‘sentrap-sentrup’?  Intinya itulah. Karena gak semua suasana bisa dibahasakan, kan?

Apalagi kalau siang hari, melernya makin menjadi-jadi. Maka dari itu, sebisa mungkin aku menjaga penampilan, apalagi di depan orang yang...ehm aku sukai.

Selain dua kegiatan super melelahkan tadi, bukan berarti aku bebas dari segala tugas sekolah. Kamu pikir, praktikum itu untuk apa kalau di endingnya gak numpuk laporan? Mana kalau dihitung total laporan praktikum ada dua belas. Masih ada lagi, tugas inilah itulah. Presentasi PKn, bahasa Jepang, PR Matematika yang ada aja tiap kali pertemuan, hafalan English Speech, dan masih buanyak lagi. Dan yang tambah ngeselin, pendalaman materi tiap pagi yang tentunya menuntutku buat berangkat lebih pagi. Pokoknya jam 6.25 harus sudah ada di kelas. Padahal rumahku gak bisa dibilang deket dari sekolah. Kalau siklus hidupku gini, jam tidurku bisa dibilang makin sedikit. Bayangin aja, sekarang aku cuma bisa tidur lima jam dalam sehari!

Akhir bulan aku bakal ikut lomba pidato bahasa Jawa tingkat kota. Dan keadaanku masih begini. Aku agak ngerasa kualat udah bilang “duh, kayaknya aku mau sakit nih.” Janji deh, gak gitu lagi.

Semoga saja pas hari-H lomba udah sembuh. Mana mungkin bisa perfect kalau pidato di depan banyak orang sambil meler. Huft yakali.


Ya, mungkin ini cara Tuhan menyentilku, agar aku bisa meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat.


Kalau hidup kasih kejutan lagi, siap gak ya?

Saturday, 17 October 2015

Loncat...Loncat...Loncat

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, October 17, 2015 0 comments
Perkenalkan, inilah diriku
Yang selalu memilih untuk pergi ke mana
mana pun yang ku mau
Menuruti kata hatiku
yang terkadang tak menentu

Dari yang satu ke yang dua
Dari yang dua ke yang tiga

Seterusnya kulakukan
Tapi, kenapa sudah terlalu jauh aku berjalan?
Sampai-sampai tidak tahu tujuan

Sebenarnya dari mana aku harus memulai?
Dan di mana aku harus selesai?

Ah, iya!
Kenapa kamu tidak ikut di belakangku?
Atau, kenapa pula kamu tidak bersiap menyambutku?

Jangan marah
Aku hanya butuh petunjuk arah
Agar aku tidak salah langkah



13:55
17-10-15
lagi bingung,
Nafi’ah.

Thursday, 1 October 2015

...

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Thursday, October 01, 2015 0 comments
Halo Oktober! Awal bulan ini aku mau post cerpen buatanku. 
Mungkin jauh dari kata sempurna, karena aku masih belajar. Tapi setidaknya bisa jadi bacaan buat kalian. Selamat membaca :)





Jika itu baik bagi kau dan aku, menetaplah...

Tapi jika tidak, maka enyahlah...

Jangan biarkan,

hanya karena satu hal yang tak wajar ini

menjadikan kita seakan tidak pernah saling mengenal...


Sedari tadi aku hanya menatap selembar roti plus selai stroberi favoritku yang sepertinya sudah lama ditaruh bibi di meja makan. Aku membiarkannya dingin. Sama seperti perasaan yang aku risaukan ini, aku membiarkannya menjadi lumut yang tumbuh di atas batu, yang sampai kapanpun tidak pernah dipedulikan orang.


Aku masih ingat saat dia resmi menjadi tetangga baruku semenjak ayahnya pindah tugas ke Jogja. Waktu itu aku kelas dua sekolah dasar. Dia satu tingkat denganku.

Awalnya aku benci dia. Bintang, tidak pernah mau mengalah. Selalu saja mengganggu waktu istirahatku, hanya ingin mengajak bermain bersama. Tidak jarang aku bilang ke mama untuk mengatakan kalau aku sedang tidur. Alasannya, aku tidak ingin diganggu. Tapi ada hal lain yang lebih aku benci dari ajakan mainnya. Dia selalu menerobos masuk rumah dan menggebrak-gebrak pintu kamarku, yang sampai sekarang menjadi kebiasaan. Mau tidak mau aku harus mengalah. Pokonya aku benci dia. Semenjak itu dia berada di urutan pertama daftar musuhku.



Yang aku herankan, dia ini cowok tapi lebih jago main lompat tali ketimbang aku. Padahal aku saja yang perempuan, pantang buatku untuk bermain di luar rumah. Tapi karena dia... Anggap saja layaknya anak kecil pada umumnya gengsi dan tidak mau kalah dalam hal permainan. Aku mencoba melompat, tapi sial. Diulurkan tangan kecilnya yang kotor membantuku bangun dari jatuh.

Lama kelamaan aku merasa nyaman bermain dengan dia. Dan perasaan ini terus berlanjut... Baiklah, terlalu awal buatku membicarakan cinta di sini. Aneh pula rasanya. Toh aku tidak jatuh cinta. Apalagi dengan orang yang aku benci sebelumnya.


“Bulan, woy ayo ntar telat nih!”


Suara Bintang membuyarkan lamunanku. Aku pun refleks memukul lengannya yang super duper keras. Hasil latihan fisik tiap basket.


“Bintang! Ngagetin aja!”. Aku langsung mengeluarkan jurus ngambekku. Kerena cuma dengan cara ini Bintang mau bicara pelan.


“Yaudah, ayo neng, liat ini udah jam berapa...”


Akhirnya kami pun sahabatan. Dan berjalanlah waktu-waktu yang aku rasa begitu cepat. Kami sudah berseragam putih abu-abu. Kami sekolah di SMA yang sama.  Banyak kisah yang aku ceritakan kepada Bintang. Semua yang terjadi kepadaku, seolah-olah dia juga merasakan hanya dengan mendengar curhatku. Begitu pula Bintang.

Inilah awalnya. Suatu hal yang menyesakkan, Bintang telah jatuh cinta!


Akhir-akhir ini dia sering menceritakan sosok yang dia suka. Namanya juga Bulan. Hey, kenapa dari sekian banyak nama di dunia, namanya harus sama persis dengan namaku? Apalagi untuk sosok yang disukai oleh... seorang Bintang. Tapi dia bilang, Bulan yang ia maksud sangat sangat cantik. Senyumnya indah bercahaya. Semakin terlihat anggun dengan gaun putihnya. Natural. Banyak orang yang mengaguminya. Jelas itu bukan aku! Sadar akan wajahku yang tidak secantik gadis lain. Apalagi gaun putih? Aku tidak pernah merasa memiliki gaun putih. Aku benci dengan gadis yang bernama Bulan itu. Seketika aku mantap hati menaruh nama 'Bulan' di peringkat pertama list musuhku. Menggeser posisi Bintang. Tapi dari ciri yang Bintang katakan, tidak heran kalau sahabatku telah terhanyut oleh senyum manis gadis misterius itu.

Siapa sih dia? Beruntung sekali gadis yang bisa bersanding dengan orang yang senyumnya, ehmmm...aku sukai sejak kecil. Yang aku nantikan kepekaannya selama, sepuluh tahun?

Bodoh. Ingin rasanya menertawakan diriku keras-keras dengan fakta bahwa memang setipis itukah garis yang memisahkan antara dua hal yang bertolak belakang, benci dan cinta?

Satu hal yang membuat detak jantungku berhenti sesaat. Dia berencana menyatakan cinta kepada ‘Bulan’ sebelum kelulusan. Sebenarnya dia sudah merencanakan jauh-jauh hari. Aku sudah pernah mendengar hal ini. Tapi dulu aku tidak menghiraukannya. Aku pikir dia hanya bercanda. Tapi dia teguh dengan ucapannya. Itu berarti...satu minggu lagi.

Katanya, sebelum kelulusan adalah timing yang pas. Sebelum ia melanjutkan studinya ke negri paman sam. Dia ingin kuliah sesuai passionnya. Di bidang bisnis manajemen. Tidak mau meneruskan karir papanya yang seorang tentara.

Tidak lama lagi...

Atau aku akan terlambat.


Bintang yang selalu menjadi alasan aku ingin melakukan ini...melakukan itu...menunjukkan padanya bahwa aku ini wanita yang pantas ia lihat. Bahkan hal sesulit apapun dapat aku lakukan jika aku mengingatnya.


Tapi kalau pada akhirnya kamu harus pergi Bintang? Siapa yang akan menjadi alasan atas apa yang aku lakukan?


Sepertinya lemon tea di meja kantin mampu menyulapku dalam lamunan lagi. Aku pun tidak sadar kalau aku telah memesannya. Aku melirik arloji di tangan kiriku. Ini jam makan siang. Mungkin aku kelelahan setelah gladhi wisuda yang memakan waktu cukup lama hari ini. Seketika aku sadar ada lengan seorang pria di sampingku, sepertinya sedang pasang muka marah.


“Bulan..!!!! Dari tadi aku ngomong gak kamu dengerin???”


Dia Bintang. Bintang masih di sini. Bintang belum pergi.

Aku cuma meringis. Sambil tertawa kecil.

Sampai kapan aku menyembunyikan ini semua?



Dan tanpa Bulan sadari, Bintang telah pergi melangkah, menjauh, meninggalkannya. Matanya yang semula mencari ke mana perginya Bintang, dialihkan oleh sepucuk surat di hadapannya. Lengkap dengan stiker hati kecil berwarna merah glitter.


“Bulan, sahabat kecilku. Terima kasih, karena sinarmu, malamku tidak pernah sepi. Satu hal yang harus kamu tau, aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya kepada gadis lain. Aku harus mengakuinya, aku telah terjatuh kepada bulan yang sangat terang. Dan bulan itu adalah kamu. Tetaplah anggun dengan gaun putihmu. Aku ingin terus melihat senyum bersinar mengembang di wajahmu.”





Hmmmm endingnya. Bintaaaaang...


Entah kenapa aku mengangkat tema persahabatan dan cinta di sini. Sejauh ini, memang fakta kalau sahabat-cowok-cewek gak bisa selamanya sahabatan. Karena gak jarang, dalam persahabatan pasti ada rasa yang berbeda, walaupun sedikit, kan? Bisa saja dua-duanya merasakan, tapi bisa juga bertepuk sebelah tangan. Unrequited love.

Pasti ada satu hal di antara mereka yang bahkan mereka gak bisa mengelak,
Cinta.

Tapi buatku...

Sebisa mungkin aku mempertahankan persahabatan tanpa mencampuradukkan sedikitpun perasaan asing. Perasaan asing yang membuatku canggung. Perasaan yang bila kamu tau, sahabatku, itu akan menghancurkan persahabatan kita...

Karena aku tidak ingin adanya istilah ‘mantan sahabat’.



ps: Cerpen ini khusus buat semua sahabatku. Selamanya kita akan tetap sahabatan. Iya kan teman?

Saturday, 26 September 2015

Mungkin Aku...

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, September 26, 2015 0 comments
Dulu aku tidak pernah melihatmu.
Sedetikpun.

Dulu aku juga tidak pernah menyebut namamu.
Sekalipun.


Tapi, apa yang aku rasakan sekarang.
Hal yang tidak bisa aku lawan.
Hal yang tak dapat aku jelaskan.


Aku tidak bisa mengatakan
Apa yang semestinya menjadi alasan.


Mungkin.
Saat ini aku hanya bisa berkata mungkin
Mungkin aku...menyukaimu


Tidak ingin kah kau tahu?

Saturday, 19 September 2015

66 Tahun, Puspanegara Jaya!

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, September 19, 2015 0 comments
17 September 2015. SMA Negeri 5 Yogyakarta genap berusia 66 tahun. Bukan waktu yang singkat. Banyak sejarah dan riwayat yang terkandungnya.

Walaupun aku belum genap tiga tahun sekolah di sana, tapi rasa banggaku menjadi bagian darinya, gak bisa diungkapkan pakai kata-kata.

Seperti perayaan ulang tahun pada umumnya, pada hari itu terpancar semua kebahagiaan. Pagi harinya, semua warga sekolah mengikuti upacara. Aku, sebagai siswa, pakai baju OSIS plus almamater kebanggaan. Hijau pupus. Guru-guru dengan jas dan bluesnya, jadi makin berwibawa. Apalagi guru Fisikaku yang biasanya tampak serem (killer), hari itu cerah. Serius deh.

Ini yang gak begitu aku suka dari upacara perayaan hari spesial. Pasti ada pembacaan riwayat sekolah. Gemes banget, si petugas udah baca panjang lebar tapi gak ada yang ndengerin. Yang nyimak bisa dihitung pakai jari. Untung barisan kelasku di pojok timur yang deket kanopi. Jadi lumayan adem. Sebenernya alasan lain aku gak kepanasan soalnya pemimpin pasukannya si adik kelas yang kece (katanya). Anak pleton inti gitu. Anak-anak alay sih bilangnya ‘suaranya menggelegar’. Jadi seakan hawa sepanas apapun tetep adem kalau di deketnya. Hmmmm. Emang iya sih!

Upacara berlangsung kira-kira satu jam. Diakhiri dengan doa yang sebelumnya dilakukan pemotongan tumpeng oleh kepala sekolah. Dan...gak tau kenapa tiba-tiba air mataku menetes... Tau ah, kelas tiga ini aku jadi baperan-_-

Nah, sebelum ninggalin lapangan upacara, sempetin dulu lah ya foto-foto.



Layaknya tujuh-belasan, sekolahku juga ngadain lomba lho (gak ada yang nanya, tapi aku ceritain ya).

Ada lomba masak, estafet sarung, kebersihan kelas, dan masih ada beberapa lagi. Karena udah kelas XII, pada ngeyel nih gak mau ikut lomba. Cuma jadi penggembira aja. Foto di stand-stand yang ada background lucu. Kalau ada musik dan disuruh joget, ya ikutan joget aja. Padahal adik kelas terutama kelas X niat banget. Aku keliling area kelas X amazed banget liat cara mereka ngehias kelas. Bener-bener niat dari hati.

Kelasku masak, tapi bukan masak buat lomba. Masaknya buat anak-anak kelas. Pas masak tuh sambil ngoceh, jadi ini namanya apa ya. Sejenis apem yang dimix sama tape, terus ditaburi meses di atasnya. Yummy!


Udah jam 9. Ada pengumuman dari sentral, semua siswa diharapkan turun ke lapangan upacara. Soalnya semua acara bertempat di situ. Duh males banget gak sih, kelas di pojok barat atas, sedangkan lapangan di pojok timur bawah.

Yaudah sih ya, namanya cewek. Hunting foto...!!!




Stand buat fotonya ucuk-ucuk. Keren juga panitianya. Banyak balon warna-warni. Aku suka banget. Sayang nih, cowok-cowok kelas pada ngilang.



Di HUT ke-66 sekolahku ini, aku ngerasa campur aduk. Bahagia iya, sedih juga iya. Bahagia bisa menjadi part of  Puspanegara, sedih inget bentar lagi bakal ninggalin SMA 5. Tapi mau gimana lagi. Makanya, aku bahagia banget dan akan terus berusaha membuat diriku bahagia, serta menjadi sumber kebahagiaan orang lain. Selama di SMA 5 dan untuk selamanya.

Ini terakhir kalinya aku ngerayain HUT Mache, jadi dipuas-puasin deh bikin kenangan.



Menurutku memaknai setiap momen yang Tuhan berikan bisa membuat kita jauh lebih bahagia. Jadikan momen itu sebuah kenangan. Dan yang namanya kenangan, sampai kapanpun gak bakal terlupa. Iya kan?

Mache. Tempat aku mencari ilmu. Di sana aku temukan teman, sahabat, bahkan...cinta.


Selamat hari jadi sekolahku tercinta. Tetap berjaya!

 

Nafi'ah Indah Mutiara Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting