Karena hujan yang menahanku untuk tidak
pergi.
Karena hujan yang menyamarkan air mataku.
Tapi hujan. Kenapa kamu datang lagi
setelah berulang kali terjatuh?
Apakah kamu memang seromantis itu?
Apakah aku harus sepertimu?
Rasanya aku tak sanggup.
Hari
ini Jogja diguyur hujan lebat seharian.
Udah
paham langit gelap ngasih kode bakal hujan masih aja nekad pergi. Tapi mau
gimana lagi, ini udah direncana sejak lama sih. Pengen bikin tas serut motif
bunga matahari. Ya karena di toko-toko gak ada yang jual tas bunga matahari,
kalau bisa buat sendiri kenapa enggak? Hitung-hitung ngisi liburan sehari pasca-UAS.
Jadi sore pukul 4.00 aku putuskan ke pusat kain terlengkap se Jogja. Tentunya bareng
kembaranku. Karena yang nulis ini sudah dipastikan jomblo, sama siapa lagi.
Sayangnya di tengah perjalanan turun hujan. Yaaah, gak seru nih mau masuk toko
tapi basah-basahan. Katanya kamu suka hujan? Ya, aku memang suka hujan. Jadi
gak apa lah ya basah sedikit. Lagipula pas berangkat hujannya belum deras-deras
banget kok.
Dan sesampainya
di toko, yang bikin kami berdua agak kecewa. Kami gak nemu satu pun kain yang
bermotif bunga matahari. Huft. Syedih. Udah jauh-jauh plus nerobos hujan. Keliling
satu ruangan dengan ratusan gulungan kain. Kainnya gak ada yang cocok. Mawar banyak
sih. Tapi kan kami nyarinya bunga matahari, bukannya mawar. Sampai ngomel-ngomel
sendiri dalam hati. "Kok gak ada sih, kalau aku punya pabrik aku bakal bikin produk kain motif
bunga matahari yang banyak macemnya!"
“Padahal ini toko kain terlengkap. Mau ke
mana lagi kalau toko-toko lain grosirnya di sini.”
Karena
udah terlanjur jauh ke utara sedangkan rumahku di selatan, kami membulatkan
tekad ke Toko Progo. Tujuannya sih beli apapun yang bercorak bunga matahari. Tapi
hujannya makin deras. Kami nunggu bentar di parkiran toko kain sampai hujannya
agak reda. Kalau dari toko kain mau ke Toko Progo tinggal lurus ke barat terus
belok ke utara sedikit. Lihat hujan gini gak kerasa jadi kebawa ya. Tiba-tiba larut aja nih hati sama perasaan. Layaknya dalam drama mellow, aku jadi pemeran utamanya. Terus si dia jadi...ehm. Jadi apa dong? Haha.
Alhamdulillah,
ada yang bisa ngobatin rasa kecewaku. Di lantai tiga Toko Progo ada florist. Jual beraneka macam bunga. Daaaaan
ada bunga matahari! Bagus banget dan harganya cukup murah. Cukup Rp30.000,00
dapat sembilan tangkai. Udah sampai sini harus beli dong. Lupa deh tujuan
utama.
Masih
dengan ambisi sebuah tas serut, kami coba ke Malioboro. Siapa tau di trotoar
banyak yang jual. Tapi siap kecewa lagi nih gak ada tanda-tanda pedagang yang
jual tas bunga matahari. “Habis tuntutan
kita aneh-aneh sih, Mbak.”
Ya memang kalau dasarnya udah suka, apapun pasti akan diperjuangkan, bukan?
Ya memang kalau dasarnya udah suka, apapun pasti akan diperjuangkan, bukan?
Memang
kurang seru sih jalan di sepanjang Malioboro kalau lagi hujan. Timingnya gak pas nih.
Yaudah
pulang aja kali ya. Duit cuma habis buat parkir.
Tapi
masih deras dan makin deras. Gimana dong?
Gapapa,
katanya kamu suka hujan?
Ceritaku
dan hujan hari ini. Selama di jalan pengen cepet-cepet sampai rumah, takut orang tua khawatir. Nerobos hujan lebat pakai jas hujan yang lengannya udah sobek
lebar. Percuma deh tetap basah kuyup. Baru kali ini perjalanan jauh hujan-hujanan
sampai segitunya. Semoga gak flu deh.
Catch
you later,
Nafi’ah




0 comments:
Post a Comment
Terima kasih telah menjadi salah seorang pembaca jurnalku. Semoga kamu suka. Silakan beri komentar yang baik ya. Biar aku senang. He he ✿
Calon penulis,
Nafi'ah