Bagaimana
jika ada satu hal sepele mengubah suatu pertemanan?
Kalau
aku boleh memilih. Aku memilih ini semua gak akan terjadi. Bahkan kalau aku
boleh meminta. Aku gak mau kenal dia.
Yang
awalnya biasa. Lama kelamaan ada satu perasaan asing. Jujur ini semua dimulai
dari kekaguman. Yang terus tumbuh menjadi rasa peduli. Perhatian. Kekhawatiran.
Atau, bagaimana jika aku menyebutnya rasa suka?
Aku
benci. Kenapa harus ada perasaan aneh ini?
Aku
takut. Bagaimana kalau ini tidak baik?
Ya...ya.
Aku sudah tau akibatnya. Kita gak seakrab dulu. Padahal dulunya sering ngobrol
ini...ngobrol itu...bahas ini...bahas itu. Taunya sekarang makin jauh. Bahkan
akhir-akhir ini aku takut menatap...
Entah
mana yang benar. Kamunya yang menjauh, atau akunya yang terlalu kaku?
Ada dia
kan? Sana...dia itu jauh lebih baik buatmu. Bukan ‘aku rela’ tapi ‘aku akan
ikut senang’.
Ya
memang inilah diriku. Ibarat bintang di langit. Bintang yang redup dan jauh
akan kalah sama bintang yang terang dan terlihat, bukan? Tapi asal kamu tau.
Sebenarnya di balik awan hitam itu, sang bintang-yang-kamu-sebut-redup punya
cahaya yang gak kalah terang sinarnya. Hanya saja kamu tidak menyadarinya.
Tapi
tiap kali aku menambah kadar kebencianku, walaupun ingin kutahan, justru rasa itu kembali lagi. Selalu teringat
lagi. Menjadi suka lagi. Tidak berujung.
Aku
ingin berhenti. Aku ingin menyerah. Tapi tidak bisa. Bagaimana?
Memang dasar.
Rasa suka ini tak tahu malu.
Datang lagi dan lagi menyusup ruang
kalbu.
Rasa peduli ini teguh bertahan.
Meskipun tak pernah diperhatikan.
Rasa kagum ini kian menggebu.
Walau bahkan kau tak sadar
untuk siapa semua rasa itu.

