Malam itu hujan dan aku
masih berdiri di depan gerbang sekolah. Bersyukur sekali tidak ditambah mati
lampu. Baiklah, lain kali aku berjanji tidak akan pergi hanya dengan berjalan
kaki.
Sumpah aku sangat tidak
suka momen macam begini. Mau jadi apa jika semua temanku satu persatu mulai
pergi, dan tinggal dua orang saling diam ini?
Mungkin ini takdir bagi
perempuan sepertiku. Yang tidak pandai menghidupkan suasana ketika ada
seseorang yang... ehm, disukai. Hanya ikut menyumbang tertawa di saat yang lain
tertawa.
Kupaksakan mengeluarkan
suaraku, dengan tenggorokan yang sudah kering hasil dari 10 menit tanpa obrolan
apapun.
"Hai."
Aku sadar betapa
lirihnya suaraku barusan. Aku yakin dia juga tidak mendengar. Kuulangi. Kali
ini hanya dengan senyuman sekaligus anggukan. Senyum yang kaku tapi penuh rasa
ingin terbalas.
Sial. Kenapa matanya
cokelat sekaligus penuh warna lain yang memesona? Dan yang terpenting adalah
bagaimana bisa seorang manusia sangat ingin memeluk manusia lain dalam keadaan
seperti ini?
Tidak usah ditanya lagi.
Jelas mataku tidak berani lama-lama memandangnya.
Belum pernah aku
secanggung ini, asal kalian tahu.
Tapi hey. Selalu ada
saat di mana kita tidak bisa berbicara di depan seseorang, kan?
Iya, kalian benar.
Memang aneh kalau kupikir-pikir kembali. Sudah saling mengenal bahkan sebelum
kami bertemu untuk yang pertama kalinya. Tepatnya sebelum masa orientasi
dimulai. Tapi mau seakrab apapun, seseru bagaimana pun, jika pada akhirnya
dipertemukan dengan membawa rasa... ah aku yakin ini tak akan semulus yang
kalian kira.
Kembali aku arahkan
pandanganku ke jalan raya setelah 2 detik menatapnya.
Berpura-pura tuli akan
degup jantungku yang semakin cepat. Kumohon dengan sangat, bisa tolong kecilkan
volumenya? Aku takut dia mendengar...
Dan sepertinya itu
sampai ke telinganya.
Apa?
Barusan apa?
Dia tersenyum?
Padaku?
Benar kepadaku?
"Kamu
kedinginan?"
Dia tersenyum -senyum
yang selalu membuatku terpikat.
Aku belum sempat
menjawabnya. Masih terobsesi dengan senyum dan tatapannya yang selalu membuatku
ingin memeluknya.
Dia lalu mendekat. Dan
jarak antara kami menjadi sangat dekat. Tepi celana hitamnya menyentuh batas
akhir rokku yang juga hitam.
Seragam kami sama.
Walau jelas perasaan
kami jauh berbeda.
Tapi apakah...
Apakah ini tak boleh?

