Tuesday, 11 October 2016

Satu Jam Bersama Hujan (Bagian I)

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Tuesday, October 11, 2016 0 comments
Malam itu hujan dan aku masih berdiri di depan gerbang sekolah. Bersyukur sekali tidak ditambah mati lampu. Baiklah, lain kali aku berjanji tidak akan pergi hanya dengan berjalan kaki.

Sumpah aku sangat tidak suka momen macam begini. Mau jadi apa jika semua temanku satu persatu mulai pergi, dan tinggal dua orang saling diam ini?

Mungkin ini takdir bagi perempuan sepertiku. Yang tidak pandai menghidupkan suasana ketika ada seseorang yang... ehm, disukai. Hanya ikut menyumbang tertawa di saat yang lain tertawa.
Kupaksakan mengeluarkan suaraku, dengan tenggorokan yang sudah kering hasil dari 10 menit tanpa obrolan apapun.

"Hai."

Aku sadar betapa lirihnya suaraku barusan. Aku yakin dia juga tidak mendengar. Kuulangi. Kali ini hanya dengan senyuman sekaligus anggukan. Senyum yang kaku tapi penuh rasa ingin terbalas.

Sial. Kenapa matanya cokelat sekaligus penuh warna lain yang memesona? Dan yang terpenting adalah bagaimana bisa seorang manusia sangat ingin memeluk manusia lain dalam keadaan seperti ini?

Tidak usah ditanya lagi. Jelas mataku tidak berani lama-lama memandangnya.
Belum pernah aku secanggung ini, asal kalian tahu.
Tapi hey. Selalu ada saat di mana kita tidak bisa berbicara di depan seseorang, kan?

Iya, kalian benar. Memang aneh kalau kupikir-pikir kembali. Sudah saling mengenal bahkan sebelum kami bertemu untuk yang pertama kalinya. Tepatnya sebelum masa orientasi dimulai. Tapi mau seakrab apapun, seseru bagaimana pun, jika pada akhirnya dipertemukan dengan membawa rasa... ah aku yakin ini tak akan semulus yang kalian kira.


Kembali aku arahkan pandanganku ke jalan raya setelah 2 detik menatapnya.
Berpura-pura tuli akan degup jantungku yang semakin cepat. Kumohon dengan sangat, bisa tolong kecilkan volumenya? Aku takut dia mendengar...

Dan sepertinya itu sampai ke telinganya.

Apa?

Barusan apa?

Dia tersenyum?

Padaku?

Benar kepadaku?


"Kamu kedinginan?"

Dia tersenyum -senyum yang selalu membuatku terpikat.

Aku belum sempat menjawabnya. Masih terobsesi dengan senyum dan tatapannya yang selalu membuatku ingin memeluknya.

Dia lalu mendekat. Dan jarak antara kami menjadi sangat dekat. Tepi celana hitamnya menyentuh batas akhir rokku yang juga hitam.


Seragam kami sama.

Walau jelas perasaan kami jauh berbeda.


Tapi apakah...

Apakah ini tak boleh?
 

Nafi'ah Indah Mutiara Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting