Dan
berjalanlah minggu-minggu kosong sebelum hari kelulusan dengan sangat lamban...
Tapi dengan begitu, aku sangat bersyukur detik demi detik itu seakan mengerti
apa yang sedang aku risaukan. Jika hari itu datang, aku harus mengucapkan dua
kata yang paling aku benci kepada orang yang sangat aku cintai.
Dion.
Matahariku.
Awal
pertama aku melihatnya, aku biasa saja. Aku hanya sekadar ‘tahu’ dia dari
setiap pembicaraan guru Fisika yang selalu menyebut namanya di sela-sela
pelajaran. Dia si Future Einstein yang
tidak pernah mendapat nilai di bawah sembilan untuk Fisika. Dia yang menitipkan
spaghetti buatan mamanya ke kantin sekolah saat kelas sepuluh. Dia yang pada
akhirnya satu kelas denganku di kelas 11 hingga 12.
Dia
yang paling aku benci.
Jenius,
memang kuakui. Dia yang jarang berbicara kepadaku. Tapi entah kenapa dengan
perempuan lain dia selalu bertingkah biasa saja, bahkan bisa meramaikan
suasana. Selalu bersikap dingin dan jutek. Kekanak-kanakan dan tidak mau
mengalah itulah Dion. Pokoknya aku benci dia.
Semenjak
itulah aku menaruh namanya di peringkat pertama daftar musuhku.
Tapi
semua itu justru berubah.
Anehnya
aku malah bersikap biasa saja kepadanya. Tidak menunjukkan sedikitpun rasa
benciku. Bersama-sama membuat jadwal belajar sehabis pulang sekolah. Bahkan
kami sangat dekat saat menjelang Ujian Tengah Semester kelas 12. Dia memang
laki-laki yang bisa diandalkan dalam hal pelajaran. Beberapa kali aku duduk
berhadapan dengannya. Tanpa memperdulikan tatapan ngiler adik kelas
‘ih-gue-juga-mau-kali’.
HAHAHA.
Ingin rasanya menertawakan diriku keras-keras dan menampar wajahku, dengan
fakta bahwa memang setipis itukah garis yang memisahkan dua hal yang bertolak
belakang, benci dan cinta?
Baiklah.
Terlalu awal buatku membicarakan cinta di sini. Toh aku hanya seorang gadis
yang baru saja lulus sekolah menengah atas... Hanya gadis yang beraninya
memendam!
Anggap
saja Dion yang bertingkah kekanak-kanakan dan menjengkelkan berubah menjadi
sosok yang kuperhatikan gerak-geriknya.
Semakin lama aku memperhatikannya, semakin aku terbiasa mampu
bertahan melihat senyumnya –sebelumnya tidak kuat– Semakin
jauh ke sini pula aku
mulai berjumpa dengan bayangan yang tidak pernah kuharapkan.
Yaitu,
Ketakutan.
Sebenarnya
ketakutan terbesarku saat ini adalah dia yang akan melanjutkan studinya ke luar
kota. Di salah satu universitas ternama di Indonesia. Seharusnya
aku bersyukur dia masih ada di tempat yang bisa aku jangkau. Setidaknya masih
di tanah air, bukan?
Dan
aku sendiri sudah tahu dulu Dion pernah bercerita kalau dia memang ingin kuliah
di sana. Seakan menolak aku tidak pernah ingin ingat dengan fakta itu. Yang aku
tanamkan di otakku saat ini adalah Dion di sini. Dion gak akan pergi.
Selama
ini masa depan yang aku tata pun hanya untuk Dion. Karena dia yang menjadikanku
begini. Mengubah hidupku. Berusaha baik dalam pelajaran... Ikut berbagai macam
lomba dan menjuarainya. Untuk siapa? Untuk Dion.
Dion
yang selalu menjadi alasan aku melakukan ini...melakukan itu. Menunjukkan
padanya bahwa aku ini wanita yang pantas ia lihat. Bahkan hal sesulit apapun
dapat aku lakukan jika aku mengingatnya.
Tapi
kalau pada akhirnya kamu harus pergi, Di?
Siapa yang akan menjadi alasan atas apa yang aku lakukan?
Dan
Dion, haruskah dua kata yang paling aku benci itu terlontar dari mulutku?



