Berawal
dari orang tuaku, yang paling susah bilang ‘iya’ setiap aku izin mau main.
Selalu aja ada alesannya buat bilang ‘gak boleh’. Paling dapet penolakan gitu
aku sebel tingkat tinggi. Kadang bisa sampai nangis juga. Habisnya, saat orang
lain lagi sering-seringnya main sama temen, makan di luar, jalan-jalan ke mall
bareng, atau nonton. Aku jaraaang banget bisa dapet kesempatan kayak gitu.
Tapi, memang selalu ada maksud baik sih dari ‘larangan’ orang tua.
Berasa
kurang gaul gitu...
Jadi
kalau temenku ngajakin nonton, ke toko buku, atau liat-liat diskonan sepatu,
bisanya pas jam pulang sekolah. Biar bisa langsung tanpa harus pulang ke rumah.
Alhasil tiap main ke luar, aku masih dalam keadaan berseragam.
Itu
semua berdampak secara nggak langsung, aku bisa tau kepribadianku adalah
seorang yang kurang gaul, kurang main, ya gitu, anak rumahan. Makanya, sejak
kecil hingga sekarang aku lebih seneng di rumah daripada main di luar.
Karena
sejak kecil aku emang suka banget sama yang namanya buku. Aku menghabiskan
waktu luangku dengan membaca. Dulu kecil sih aku disediain buku gambar dan
mewarnai, pastel, pensil, dan seperangkat alat tulis lainnya. Kalau SMA ini,
aku punya ritual tiap hari Kamis ke toko buku di daerah Kota Baru. Sebelumnya
browsing dulu, buku apa sih yang wajib dibaca bulan ini. Terus nunggu deh hari
Kamis buat ke toko buku. Kenapa hari Kamis? Karena itu adalah Novel Day. Jadi,
setiap pembelian novel di hari Kamis, toko buku itu ngasih diskon 25%. Lumayan kaan...
Hehehe sampai-sampai tukang parkir sama mas-mas penitipan tas udah hafal sama
kami berdua –aku dan kembaranku-. Pernah nanya gini pas aku ke sana sendiri, “Kok nggak sama kembarannya?”
Padahal
awalnya aku nggak begitu suka sama novel lho. Aku lebih suka ensiklopedia gitu
–sampai sekarang juga sih-. Lihat tingkat ketebalan novel yang rata-ratanya 300
halaman aja udah alergi duluan. Tapi aku sadar, memang setipis itukah garis
yang memisahkan benci dan cinta? Hahaha.
Sejak
itulah aku jatuh cinta sama yang namanya’novel’.
Novel
pertamaku apa ya?
Trilogi
Jingga dan Senja kayaknya. Berlanjut ke buku-buku karya Ilana Tan, sampai ke
novel yang membuatku jatuh cinta yaitu Dilan!
Jadi
sebenarnya kurang lebih dua minggu sebelum Ujian Nasional, aku sempat ke toko
buku Kota Baru itu buat beli novel Hujan karya Tere Liye. Yang baru sempat aku
baca dua hari belakangan ini.
Aku
penasaran banget baca resensinya kok kayaknya bagus. Temanya science-fiction gitu. Berhubung aku juga
suka banget sama tulisan Tere Liye yang aku akui emang hebat dalam membawakan
pesan tersirat, tanpa pikir panjang aku langsung beli satu.
Dan
ternyata oh ternyata novel ini menceritakan masa depan. Dengan dunia yang sudah
sangat berbeda dengan peralatan super canggih. Imajinasiku terbang ke mana-mana
pas baca buku ini. Seperti biasa, aku gak akan cerita ke kalian gimana isinya.
Isinya tentang persahabatan, cinta, perpisahan, melupakan, dan tentang hujan.
Cocok buat gadis mellow sepertiku, kan?
Dan
sebenarnya lagi, kemarin aku udah siap-siap buat njemput kekasih (re:novel).
Tapi, seperti biasa. Larangan orangtua untuk keluar. Alasannya sih, ‘udah
malam’. Huhuhu sedih. Padahal ada beberapa buku yang masuk list-kudu-dibeli.
Dan ini kan rencanaku sejak lama. Pokoknya habis ujian aku langsung ke toko
buku belanja buku (Aneh ya? Biasanya cewek itu belanja baju, sepatu, tas....)
Ah, aku sedih banget deh hari itu. Yaa alhasil aku pasang muka cemberut, masuk
kamar, nyelesaiin Hujan itu tadi. Enggak ngomong beberapa jam.
Suasana
makin ngena ketika hujan turun. Daaan... aku baper.
Seriusan
ceritanya bagus banget.
Bagi
yang sudah baca, baguslah. Bagi yang belum, ayooo. Intinya kalian harus baca
deh! Ini kan novel paling recommended tahun 2016.
Mungkin
itu aja ya, sedikit cerita antara aku dengan buku. Dan, buat kalian semua yang
masih anti buat baca, mulai sekarang biasakan diri, ya. Jangan alergi dulu.
Bacalah apapun yang kalian suka, asalkan bermanfaat.
Karena
memang benar kata Kak Viny JKT48. “Kalau
doraemon punya pintu ke mana saja, menurutku buku adalah versi nyatanya.”
Kalau
dipikir emang bener lho. Dengan membaca buku, wawasan kita akan semakin luas.
Ilmu sekecil apapun yang sebelumnya belum kita ketahui, dengan membaca kita
akan jadi tau, kan? Daripada liburan ngelamun, nggak boleh main, nggak dapet
tiket buat liburan, nggak tau mau ngapain, mending diisi buat baca. Dan satu
lagi. Siapa yang butuh doraemon kalau kita bisa menciptakan pintu ke mana saja
dengan cara kita sendiri?
Si kutu buku,
Nafi’ah