Friday, 24 April 2020

Janji, ya?

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Friday, April 24, 2020 0 comments

Untuk diriku…

Apakah aku patut heran,
ketika melihat orang berbuat sedemikian baik?
Apakah aku perlu pula menanyakan,
mengapa orang tersebut kelewat baik?
Hingga diri ini dibuat jatuh terpikat, detik demi detik.


Dan untukmu…

Tidakkah kamu takut, jika mengagumi seseorang dengan hanya melihat apa yang sengaja ditaruh,
bukan dengan apa yang menjadikannya utuh?
atas apa yang terlihat, bukan yang melekat?

Tidakkah kamu khawatir, jika mencintai seseorang tidak untuk dia sebenarnya
dan hanya mencintai ide tentang dia seharusnya?


Pertanyaan yang hanya bisa ditemukan jawabannya
oleh sang empunya rasa.
Memang… selalu ada momen, di mana Tuhan menghantammu, dan membuatmu merasa tidak lebih ringan dari selembar kertas, ya?


Ya. Baru kali ini aku merasa sangat dicintai
Sejalan dengan itu, ada risau yang kian menjadi
Kekhawatiran menggoreskan kecewa di hati,
orang yang telah mencintaiku tanpa tapi.
Kutanya sekali lagi padamu, wahai sang pemilih, kenapa harus diri ini?



Ketika dirimu… pun terutama aku,
merasa sudah di batas mampu

Lebih baik menyerah saja, ya?

Tentunya, menyerah-kan semua-muanya…
kepada Yang Tiada Dua

 Janji, ya?

Wednesday, 18 December 2019

Untukmu, yang Sedang Jatuh Cinta

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Wednesday, December 18, 2019 0 comments
Kamu takut gegabah jika menyebut ini cinta.
Kehadirannya yang menggenapkan. Keberadaannya yang menenteramkan.
Ditambah lagi mulai sekarang kamu harus bisa berdamai dengan debar yang tiba-tiba muncul tanpa diundang. Menjumpainya tak lagi jadi kebiasaan kosong yang bisa dengan mudah dilupakan. Perjumpaan dengannya perlahan jadi sungguh kamu nantikan. Tapi tetap saja, ada sumbatan yang menghalangi saluran tumpahan perasaan.
Bagimu perasaan ini tak layak, atau, belum saatnya untuk diungkapkan.
Sebisa mungkin kamu berusaha bersikap seolah tidak ada apa-apa. Walau kini kegiatan sederhana macam bercanda sudah tak lagi sama rasanya. Hingga kamu memilih jadi penahan rasa yang handal. Sepertinya berat sekali, ya?
Toh bagimu berada di dekatnya sudah merupakan sebuah kemewahan. Lalu, apalagi yang pantas dikeluhkan?
Hampir setiap hari bertemu dan berada dengan jarak yang berdekatan sudah menjawab doa malam yang selalu kamu panjatkan. Menjadi penjaga dan penghiburnya di saat dia memerlukan bantuan sudah membuatmu puas dan senang bukan kepalang. Biarlah dia menjadi kisah indah untukmu yang bisa dinikmati dalam diam.

Namun sungguh, ada rasa yang tak lagi bisa disebut biasa. Debar-debar itu harus segera menemukan jawabannya.

Memang benar. Sejak awal, tidak pernah ada yang bisa melawan hal yang bahkan kita sendiri tidak bisa jelaskan. Cinta.

Saturday, 29 June 2019

Menghitung Hari

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, June 29, 2019 0 comments
Akhirnya hari-hari yang kutakutkan akan tiba juga.

Dahulu, aku sempat tenang. Karena seseorang pernah berkata; manusia akan melupa pada masanya.
Namun, sekarang aku tersadar. Bahwa sekeras apapun usahamu melupakan, kau tak akan bisa sepenuhnya berhasil, sayang.

Hahaha. Ingin rasanya menertawakan diriku keras-keras dan menampar wajahku, dengan fakta bahwa memang setipis itukah garis yang memisahkan antara benci dan cinta?


Monday, 25 December 2017

Aku Kembali

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Monday, December 25, 2017 0 comments


Malam…!! (banget ya?) Haha.

Hai. Aku kembali.

Setelah sekian lama. Akhirnya aku bisa menulis lagi. Rasanya sombong sekali aku lama tidak memberi kabar. Padahal banyak cerita yang wajib hukumnya kucurahkan kepada kalian.

Entahlah. Enggak mau mencoba beralasan kenapa aku tidak mau menulis beberapa bulan terakhir. Mungkin memang sedang sibuk dengan pikiran sendiri. Bagi yang menunggu tulisanku, mohon maaf ya telah membuatmu menunggu. Apalagi yang ditunggu nggak pasti, kayak aku ini. Hm.

Sangat lama. Tiga bulan itu, lama, kan?

Seminggu saja lama. Apalagi jika sendiri. Ya kayak aku sekarang ini. Saat semua orang pulang ke kampung halaman masing-masing menghabiskan waktu kebersamaan di penghujung tahun 2017. Diberi kesempatan libur begini aku memilih untuk menenggelamkan diri di Kota Apel tercinta ini.

Kayaknya tidak mungkin kalau mau merangkum hidupku tiga bulan ini. Nanti diprotes saking panjang dan muter-muternya ngalahin jalur KRL. Mungkin kita mulai dari hal yang  menyibukkanku bulan ini saja, ya?

Itu juga kalau kamu mau tau sih.

Kalau enggak, bacanya sampai sini aja gapapa kok.


Jadi tunggu apa lagi mari kita mulai.

20 Desember 2017, sepulang dari Orientasi Kementerian Keuangan di Bogor, aku langsung mengemasi barangku menuju stasiun Bojonggede. Tau kan mau ngapain? Yaktul! Naik KRL ke Jatinegara. Menuju tempat di mana aku ditempatkan untuk bekerja nantinya, di Kota Malang. Waktu itu perasaan udah enggak karuan. Sedih sudah mau pisah sama taman-teman lah, takut ketinggalan pesawat lah… Bahkan sudah kebayang enggak bisa pulang Jogja (yang ini beneran kejadian).

Di sisi lain, aku sangat bersyukur mendapatkan lokasi penempatan di Malang. Masih di Jawa. Kotanya dingin pula. Hehe. Masih kebayang betapa mau copotnya jantungku hingga turun ke perut pas dengar kalau Skep penempatan sudah keluar. Hadeh.

Lanjut.

Dari Bojonggede sampai Manggarai (anak Jabodetabek pasti paham ini) sih KRL nya sepi. Bahkan aku bisa dapat tempat duduk. Tapi karena Manggarai adalah stasiun transit…. Jadilah aku enggak kebagian gerbong di kesempatan pertama. Alhasil aku nunggu kereta giliran berikutnya. Ada lah lima belas menit. Kereta yang kunanti-nantikan pun tiba. Tidak berbeda dari kereta pertama. Penuh! Aku harus apa? Tanpa peduli lagi untung badanku bisa nyelip-nyelip di kerumunan orang di dalam gerbong kereta. Hal yang paling mengerikan adalah, tidak sedikit orang di dalam gerbong berani nempel di pintu kereta. Buset. Gila ini gila. Parah. Pokoknya aku harus naik dan sampai ke Halim Perdanakusuma!

Sekadar informasi. Dan boleh jika mau membayangkan. Waktu itu aku membawa koper yang cukup besar, dan berat tentunya. Masih ditambah ransel yang kugendong. Yang juga sama-sama berat.

Untung banyak orang yang peduli, mau membantu aku mengangkat koperku yang super berat itu.

Singkat cerita, sampailah aku di Jatinegara dengan keadaan baterai handphone yang lowbat. Untung sebelumnya sudah order taksi online. Riweuh banget lah hari itu.

Hari itu adalah hari terakhir aku melihat teman-temanku. Dan memeluk mereka.

Aku mau ke mana. Mereka ke mana. Dia ke mana. Hehe. Sedih. 

Memang benar, kan? Yang datang akan pergi. Yang bertemu pun akan berpisah.
Tetapi sebenarnya perpisahan itu tidak menyedihkan. Yang menyedihkan adalah jika habis itu saling lupa.

Ini siapa sih yang naruh bawang merah di sini?!


Beruntung sekali aku dapat driver yang mau mengantarku ke bandara. Sebelum handphone ku kehabisan nyawa. Segeralah aku pinjam USB ke bapak driver untuk menyelamatkan ponsel kesayanganku. Drivernya baik. Langsung deh kuberi bintang lima.

Sendiri saja ke Halim nya. Kurang mandiri apa coba?!

Sedih mendengar kelurahan di perutku sudah demo mau minta makan. Ya iyalah terakhir makan jam 12 siang. Tahan Naf, tahan…

Dan bersyukur sekali aku belum terlambat. Pesawatnya juga delay sekitar setengah jam.
Bersyukurnya lagi, di dalam pesawat, orang yang duduk di sebelahku adalah seniorku! Haha bisa- bisanya. Jadi enggak sendiri deh. Asik.

Omong-omong, aku jadi bangga dengan diriku sendiri, yang kuat membawa koper super berat. Naik turun dan susah payah rebutan gerbong KRL dari Bogor sampai Jakarta Timur lho. Pas koperku ditimbang di timbangan bagasi pesawat dan jadi tau beratnya, aku kaget sendiri. Delapan belas kilogram! Hehe.

Selama di perjalanan. Hal yang selalu kupikirkan adalah,
Tahun depan aku sudah berkepala dua. Aku sudah lulus dari pendidikan. Bulan ini juga, aku akan berada di dunia nyata. Tidak boleh ego dengan semau-mauku.
Awalnya aku merasa takut, apakah aku bisa? Tapi sekarang aku merasa bersyukur. Sangat sangat bersyukur. Tuhan membuat semuanya terasa mudah.

Saat sudah sampai di sini, aku ingin diriku bisa menjawab.
Apa yang sudah kudapatkan?

Aku juga ingin mengingatkan diriku sendiri.
Bahwa aku tidak bisa menjamin perjalananku akan menjadi perjalanan yang mudah.
Tapi aku ingin belajar kalau tak ada yang sia-sia.


Awalnya aku merasa belum siap. Tapi setelah aku pikir kalau kita menunggu siap, kita tidak akan pernah siap. Semua hanya perlu dijalankan dengan persiapan. Apa yang dihadapi kedepannya tidak ada yang tahu. Yang kita perlukan hanyalah bersiap-siap...


 

Sejak awal menulis ini, sejujurnya aku juga masih bingung ingin menulis apa. Terlampau banyak yang ada di kepala, hingga tak bisa tertuliskan.

Tetapi hal yang terpenting adalah…

Terima kasih Tuhan. Aku telah ditempatkan di tempat yang baik. Dalam keadaan baik. Dan bertemu orang-orang baik.

Yakin saja lah. Mau pergi ke suatu tempat di mana pun, pada akhirnya akan mengantarkan kita ke rumah, kan?

Senang bertemu denganmu lagi, Malang
Dan…
Tunggu aku, Yogyakarta
Entah kapan aku tak tahu.


Untuk teman-teman seperjuanganku, Selamat mengabdi!





Salam dari gadis yang walau jauh di mata tapi dekat di hati,
Nafi’ah
 

Nafi'ah Indah Mutiara Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting