Menurut kalian apakah yang benar itu
mencintai atau dicintai?
Dicintai oleh orang yang kita cintai... Kurasa
aku sedang tidak mengalaminya.
Mencintai orang yang bahkan tidak pernah
melihat kita? Kurasa aku adalah salah satunya.
Selamat
malam minggu semua!
Semalam
aku mimpi aneh lagi. Gara-gara kejadian kemarin, yang menjadi hari paling
menakutkan buatku. Ketakutanku pun masih berlanjut sampai sekarang...bahkan
nantinya...saat aku benar-benar tidak bisa melihatnya setiap hari.
Sebuah
mimpi singkat yang benar-benar seperti kenyataan. Bukan lagi tentang mimpi aku
sedang jalan-jalan di Tokyo Street atau main ski di Hokkaido. Ini mimpi kedua
yang meninggalkan satu memo kecil setelah aku terbangun.
Pertanyaan.
Aku berpikir, sebenarnya untuk apa? Hal-hal yang pada hakikatnya tinggal aku
jalani, harus dipikir kembali.
Kalian
masih bingung ya, sebenarnya kejadian apa yang membuatku takut?
Gini
deh, aku kasih tau tapi pakai kode-kodean ya. Kebayang, kan gimana rasanya
duduk tanpa pembicaraan? Saling membalas perkataan tanpa mengarahkan pandangan.
Padahal dulunya sering bertukar cerita... Haha. Kalau dipikir-pikir lucu ya.
Okay,
sebelum aku bercerita lebih lanjut, ada baiknya jika aku menceritakan kepada
kalian apa yang sedang aku rasakan.
Kamu
pernah dengar perbedaan suka dengan cinta? Iya, suka dan cinta berbeda dalam
hal pemunculannya. Suka dan cinta berbeda dalam hal kedalamannya. Suka dan
cinta juga berbeda dalam hal cakupannya.
Seberapa
lama aku memikirkan matang-matang untuk berani berkata bahwa ‘sekarang aku
bukan hanya suka’, adalah seberapa jauh aku mengenalnya.
Tapi
dengan datangnya mimpi itu, aku semakin takut untuk melangkah lagi. Walau
memang tidak semua kejadian di mimpi itu terekam jelas, tapi saat dia
mengatakan suatu hal padaku, aku tidak lupa. Perkataan darinya yang kalau dirasakan
seperti tamparan. Atau lebih tepatnya larangan?
Sikapmu
itu...
yang
telah mengubahku.
Membuang
jauh-jauh rasa tidak percaya diriku...
Sekarang
senaknya saja menyuruhku
menyerah
terhadapmu.
Enak
saja!
Kenapa
aku gak boleh, sih? Aku kan sudah sejauh ini?!
“Hmmm... Tapi kamu boleh kok, gak suka.
Nggak apa-apa. Asal jangan diem-dieman ya.”
Hanya
itu kalimat yang sampai saat ini masih betah tinggal di benakku. Setidaknya
memberikanku dua pilihan. Mau melangkah lagi, atau berhenti?
Ya...
Kalau memang kamu tidak tau (re:perasaanku), atau bener-bener gak mau tau. Itu
tidak akan jadi masalah buatku. Terserah bagaimana kamu, itu urusanmu. You have your own choice in your life. There's nothing I can do. Just let you to be yourself...laugh freely... As long as you happy with your decisions.
Karena
‘ketauan’ juga bisa menghantuiku. Malah semakin melebarkan jarak yang sudah ada
di antara kita. Anehnya aku juga sempat berpikiran, supaya kamu jangan sampai
tau. Haha.
Dan kata
orang, terlalu mencintai itu tidak baik. Kamu boleh mencintai, iya memang. Tapi
jangan biarkan perasaan ‘terlalu’ ini justru menggerogotimu, membuatmu lupa,
tidak sadar bahwa...kamu juga berhak untuk dicintai.
Tapi
kalau aku disuruh melupakan, jelas itu tantangan berat buatku. Pasti aku tidak
sanggup. Aku jelas tidak akan sanggup. Maksudku...aku belum pernah mencintai
seseorang se’lama’ ini. Kalian paham, kan?
Haha.
Terdengar berat banget ya. Tapi, kurang lebih seperti itulah rasanya.
Mimpiku
waktu itu memberikan pertanyaan sekaligus jawaban. Jawaban tersirat yang justru
membuatku semakin berpikir.
Apa
yang sedang aku lakukan?
Apa
yang benar-benar harus aku lakukan?
Apa
yang seharusnya aku lakukan?
Apa
yang ingin aku lakukan?
Jawabanku
saat ini seseimpel,
Aku tidak tahu.
Sampai
sekarang pun aku benar-benar tidak tahu.
Mencintai
atau...
dicintai?
Atau,
barangkali ada yang mau membantuku mencari jawaban? :)
Sekali
kucintai, kau tau, akan selalu.
Jika
ada yang mencoba untuk mengubah,
aku
tidak menemukan hal menarik selain itu.
Pidi Baiq (1972-2098)
Gadis
yang sedang bertanya-tanya,
Nafi’ah

