Saturday, 30 January 2016

Waktu

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, January 30, 2016 0 comments
Entah apa yang aku pikirkan, hanya saja aku berharap satu hari tidak cuma 24 jam. Mungkin aku tamak. Tapi aku butuh waktu lebih. Karena kamu hanya perlu waktu untuk menuntunmu pulang. Membantumu berpikir. Memberikanmu jawaban. Membiarkanmu memandangnya berlama-lama.

Ah, aku kurang tidur!
Sepertinya tidur di kelas saat jam kosong adalah tindakan yang dibenarkan.

Sudah beberapa hari ini perasaanku tidak enak. Seperti ada beban satu ton di kepalaku. Walau memang benar tertawa kencang bersama teman-teman sampai perut sakit setidaknya bisa meredakan.

Hingga aku mendapati satu peristiwa...

Mimpi aneh itu datang dua hari yang lalu. Aku kehilangan orang yang sangat aku cintai. Seseorang yang sangat aku harapkan. Seseorang yang bila tersenyum bisa membuatku lupa akan melakukan apa. Ya, kalau kamu bilang mimpi itu hanya bunga tidur, ya memang kamu benar. Tapi, salahkah jika bunga tidur itu menyelipkan rasa khawatir di diriku? Aku takut. Bahkan aku belum sempat mengungkapkan perihal penting kepadanya. Perihal yang (mungkin) jika dia mendengarnya, dia akan menganggap itu sebagai lelucon belaka.


Tapi Tuhan, tolong beri aku waktu lebih untuk bisa terus memandangnya.

Berikan pula aku kesempatan untuk hidup bahagia dengannya.

Karena dia yang menjadikanku begini.

Sebisa mungkin membuat diriku layak untuk mencintainya...bahkan dicintainya.

Berusaha baik dalam pelajaran...

Ikut berbagai macam lomba dan menjuarainya...

Dengan cara apapun!

Aku tidak mau kehilangan dia.


Memang, tidak seharusnya kita terlalu mengharapkan sesuatu. Bisa jadi kita akan bertemu dengan yang namanya kekecewaan. Di saat kita sibuk mencari dan terus mencari hal yang sangat ingin kita miliki. Di situlah perlahan-lahan waktu terbuang. Jangan sedih karena merasa hanya kamu saja yang mengemis cintanya. Berjuang mati-matian agar dia mau melihat. Menunggu waktu yang tepat sampai dia menyadari itu semua. Padahal di luar sana, mungkin ada yang mengalami itu. Tidak hanya kau saja. Percayalah. Atau bahkan kamu adalah targetnya? Siapa tahu!

Jadi, gunakan waktu dan matamu itu. Cobalah untuk melihat dunia luar...

Saat kamu sibuk mencari emas, Nafi’ah. Tanpa sadar kamu telah kehilangan berlian.


Ah, tapi aku hanya mau dia!
Andai aku cukup pintar, ya? Aku ingin membuat mesin penambah waktu.

Saturday, 2 January 2016

Awal Baru

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, January 02, 2016 0 comments
Kemarin adalah hari di mana aku resmi memulai awal tahun 2016. Membuka lembaran baru. Lembaran kosong yang harus kuisi dengan tinta kehidupan yang memang harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dan bila aku menoleh sedikit ke belakang, mengingat kembali momen-momen itu, 2015 menjadi tahun yang luar biasa buatku. Aku menemukan beberapa hal baru dalam hidupku. Dan kalau aku boleh bilang, 2015 adalah tahun di mana aku merasakan segalanya. Kebahagiaan. Kesedihan. Rasa suka. Bahkan kehilangan. Yang akan menjadi tahun yang tidak akan bisa kulupakan dalam hidup.

Beberapa pertemuan yang memang sudah direncanakan Tuhan. Mengajarkan banyak hal dan pelajaran dalam setiap pertemuannya. Membuat aku sadar akan suatu hal. Di setiap pertemuan pasti ada perpisahan, bukan?

Bertemu dengan beberapa orang yang membuat hariku lebih ceria dan berarti. Teman kelas yang mengajariku cara berbagi. Tak perlu kusebutkan satu persatu. Yang jelas aku sayang mereka. Bahkan aku tidak percaya sebentar lagi kita berpisah. Semuanya punya mimpi masing-masing. Apasih yang bisa aku lakukan selain mendoakan kalian? Karena kita hidup di dunia ini demi seseorang.


Tuhan juga mengingatkanku tentang waktu, hidup, dan kematian lewat seseorang yang begitu aku cintai. Eyang putriku. Beliau yang menjemput ibuku di rumah sakit pasca melahirkan aku dan saudara kembarku. Aku tidak begitu ingat siapa yang digendong beliau selama di mobil dalam perjalanan pulang. Aku atau saudara kembarku. Yang jelas, beliau menggendong salah satu di antara kami yang masih merah dan tidak berdaya. Jujur ada rasa penyesalan dalam diriku, yang baru mulai rutin berkunjung ke rumah beliau semenjak aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Eyang masih terlihat muda dan cantik. Beliau sangat baik dan dermawan. Aku sayang sekali, Eyang. Eyang lah yang mengajariku hal-hal baik. Tidak perlu minder dalam hal apapun. Jadilah gadis yang kuat, berani, dan membanggakan kedua orang tua. Eyang pula yang mengatakan kalau kelak aku bisa menjadi seorang pejabat. Menikah dengan seorang pejabat. Tapi jangan sampai lupa. Kau harus selalu melihat ke bawah. Kau juga harus selalu tunduk kepada yang di atas.

Aku tidak menyangka tahun 2015 Eyang kembali pulang. Padahal bulan Juni kami masih merayakan ulang tahun beliau yang ke 76. Memang saat itu keadaan Eyang sudah tidak sesehat dulu. Tapi beliau masih tetap cantik. Beliau memang selalu cantik. Aku sangat ingat. Saat itu beliau minta didoakan semoga lekas sembuh dan bisa melihat aku wisuda.

Dan ini semua dimulai sejak Juli hingga September. Eyang keluar masuk rumah sakit. Lebaran pun kami di rumah sakit. Beberapa kali aku menemaninya. Percayalah, aku juga menyebut namanya di setiap doaku. Tapi takdir berkata lain. Tuhan memanggilnya 9 September 2015. Tidak bisa kujelaskan betapa kehilangannya aku. Mataku sembab hujan air mata di sisi Eyang. Hingga aku tak kuasa nafasku terputus-putus saat membaca Al-Quran. Hari itu aku mencium beliau untuk yang terakhir kalinya. Dan saat itu beliau masih cantik. Masih teringat pesan beliau kepada ibuku, “Tuntunlah anakmu dengan baik dan hati-hati.”

Aku sedih sekali. Mengertilah, aku sedih sekali...


Dan di tahun inilah aku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sangat berpengaruh terhadap belajarku. Dia yang selalu menjadi alasan aku ingin melakukan ini... melakukan itu. Menunjukkan padanya bahwa aku ini wanita yang pantas ia lihat. Dia memang pandai dalam pelajaran. Tapi kukira dia cukup egois. Bahkan aku tidak yakin jika dia mau melihatku.
Aku bersyukur sekali bisa bertemu dengannya. Walau jika pada akhirnya dia harus pergi? Dia yang kujadikan motivasi untuk belajar setelah orang tuaku. Agar aku benar-benar bisa meraih kesuksesan. Biar setidaknya dia mau menoleh. Dan, ya memang. Setelah lulus dia akan pergi. Menggapai cita-citanya kuliah ke luar kota. Ya walaupun sedih tapi setidaknya aku bersyukur dia masih ada di tempat yang bisa aku jangkau.  Akankah ini menjadi sebuah perpisahan juga?


Tapi begitulah hidup. Memang, hidup seperti roda yang berputar. Kadang kita di atas, kadang juga di bawah. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Hanya saja, mungkin Tuhan ingin mengajariku agar menjadi gadis yang lebih kuat. Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik. Aku yakin itu.

Terima kasih semuanya, orang-orang yang telah memberi warna dalam hidupku. Tidak hanya satu tahun ini. Keberadaan kalian membuatku lebih mengerti makna kehidupan. Menjadikan hidupku menjadi hidup. Membuat aku menjadi aku yang sekarang.

Mulai tahun 2016 ini, aku juga ingin menjadi pribadi yang lebih mudah memaafkan. Memang yang namanya manusia tidak luput dari rasa khilaf. Kesalahan yang telah kuperbuat, mohon jangan kalian pendam lama di dalam hati ya? Aku juga telah belajar, tidak semua orang menyukai kita ataupun berbuat baik kepada kita. Sebaik apapun perbuatan kita, merekalah yang memiliki hak suka atau tidak. Mereka memiliki mata dan hati untuk memilihnya.

Tapi bagaimanapun juga, walaupun mungkin ada banyak yang tetap bersikap tidak baik padaku, aku tetap ingin bersikap baik kepada mereka. Karena jujur, aku tidak siap jika harus mendapati rasa penyesalan karena kehilangan.

Kalian berharga. Sangat sangat berharga buatku.



With love,
Nafi’ah
 

Nafi'ah Indah Mutiara Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting