Thursday, 1 October 2015

...

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Thursday, October 01, 2015
Halo Oktober! Awal bulan ini aku mau post cerpen buatanku. 
Mungkin jauh dari kata sempurna, karena aku masih belajar. Tapi setidaknya bisa jadi bacaan buat kalian. Selamat membaca :)





Jika itu baik bagi kau dan aku, menetaplah...

Tapi jika tidak, maka enyahlah...

Jangan biarkan,

hanya karena satu hal yang tak wajar ini

menjadikan kita seakan tidak pernah saling mengenal...


Sedari tadi aku hanya menatap selembar roti plus selai stroberi favoritku yang sepertinya sudah lama ditaruh bibi di meja makan. Aku membiarkannya dingin. Sama seperti perasaan yang aku risaukan ini, aku membiarkannya menjadi lumut yang tumbuh di atas batu, yang sampai kapanpun tidak pernah dipedulikan orang.


Aku masih ingat saat dia resmi menjadi tetangga baruku semenjak ayahnya pindah tugas ke Jogja. Waktu itu aku kelas dua sekolah dasar. Dia satu tingkat denganku.

Awalnya aku benci dia. Bintang, tidak pernah mau mengalah. Selalu saja mengganggu waktu istirahatku, hanya ingin mengajak bermain bersama. Tidak jarang aku bilang ke mama untuk mengatakan kalau aku sedang tidur. Alasannya, aku tidak ingin diganggu. Tapi ada hal lain yang lebih aku benci dari ajakan mainnya. Dia selalu menerobos masuk rumah dan menggebrak-gebrak pintu kamarku, yang sampai sekarang menjadi kebiasaan. Mau tidak mau aku harus mengalah. Pokonya aku benci dia. Semenjak itu dia berada di urutan pertama daftar musuhku.



Yang aku herankan, dia ini cowok tapi lebih jago main lompat tali ketimbang aku. Padahal aku saja yang perempuan, pantang buatku untuk bermain di luar rumah. Tapi karena dia... Anggap saja layaknya anak kecil pada umumnya gengsi dan tidak mau kalah dalam hal permainan. Aku mencoba melompat, tapi sial. Diulurkan tangan kecilnya yang kotor membantuku bangun dari jatuh.

Lama kelamaan aku merasa nyaman bermain dengan dia. Dan perasaan ini terus berlanjut... Baiklah, terlalu awal buatku membicarakan cinta di sini. Aneh pula rasanya. Toh aku tidak jatuh cinta. Apalagi dengan orang yang aku benci sebelumnya.


“Bulan, woy ayo ntar telat nih!”


Suara Bintang membuyarkan lamunanku. Aku pun refleks memukul lengannya yang super duper keras. Hasil latihan fisik tiap basket.


“Bintang! Ngagetin aja!”. Aku langsung mengeluarkan jurus ngambekku. Kerena cuma dengan cara ini Bintang mau bicara pelan.


“Yaudah, ayo neng, liat ini udah jam berapa...”


Akhirnya kami pun sahabatan. Dan berjalanlah waktu-waktu yang aku rasa begitu cepat. Kami sudah berseragam putih abu-abu. Kami sekolah di SMA yang sama.  Banyak kisah yang aku ceritakan kepada Bintang. Semua yang terjadi kepadaku, seolah-olah dia juga merasakan hanya dengan mendengar curhatku. Begitu pula Bintang.

Inilah awalnya. Suatu hal yang menyesakkan, Bintang telah jatuh cinta!


Akhir-akhir ini dia sering menceritakan sosok yang dia suka. Namanya juga Bulan. Hey, kenapa dari sekian banyak nama di dunia, namanya harus sama persis dengan namaku? Apalagi untuk sosok yang disukai oleh... seorang Bintang. Tapi dia bilang, Bulan yang ia maksud sangat sangat cantik. Senyumnya indah bercahaya. Semakin terlihat anggun dengan gaun putihnya. Natural. Banyak orang yang mengaguminya. Jelas itu bukan aku! Sadar akan wajahku yang tidak secantik gadis lain. Apalagi gaun putih? Aku tidak pernah merasa memiliki gaun putih. Aku benci dengan gadis yang bernama Bulan itu. Seketika aku mantap hati menaruh nama 'Bulan' di peringkat pertama list musuhku. Menggeser posisi Bintang. Tapi dari ciri yang Bintang katakan, tidak heran kalau sahabatku telah terhanyut oleh senyum manis gadis misterius itu.

Siapa sih dia? Beruntung sekali gadis yang bisa bersanding dengan orang yang senyumnya, ehmmm...aku sukai sejak kecil. Yang aku nantikan kepekaannya selama, sepuluh tahun?

Bodoh. Ingin rasanya menertawakan diriku keras-keras dengan fakta bahwa memang setipis itukah garis yang memisahkan antara dua hal yang bertolak belakang, benci dan cinta?

Satu hal yang membuat detak jantungku berhenti sesaat. Dia berencana menyatakan cinta kepada ‘Bulan’ sebelum kelulusan. Sebenarnya dia sudah merencanakan jauh-jauh hari. Aku sudah pernah mendengar hal ini. Tapi dulu aku tidak menghiraukannya. Aku pikir dia hanya bercanda. Tapi dia teguh dengan ucapannya. Itu berarti...satu minggu lagi.

Katanya, sebelum kelulusan adalah timing yang pas. Sebelum ia melanjutkan studinya ke negri paman sam. Dia ingin kuliah sesuai passionnya. Di bidang bisnis manajemen. Tidak mau meneruskan karir papanya yang seorang tentara.

Tidak lama lagi...

Atau aku akan terlambat.


Bintang yang selalu menjadi alasan aku ingin melakukan ini...melakukan itu...menunjukkan padanya bahwa aku ini wanita yang pantas ia lihat. Bahkan hal sesulit apapun dapat aku lakukan jika aku mengingatnya.


Tapi kalau pada akhirnya kamu harus pergi Bintang? Siapa yang akan menjadi alasan atas apa yang aku lakukan?


Sepertinya lemon tea di meja kantin mampu menyulapku dalam lamunan lagi. Aku pun tidak sadar kalau aku telah memesannya. Aku melirik arloji di tangan kiriku. Ini jam makan siang. Mungkin aku kelelahan setelah gladhi wisuda yang memakan waktu cukup lama hari ini. Seketika aku sadar ada lengan seorang pria di sampingku, sepertinya sedang pasang muka marah.


“Bulan..!!!! Dari tadi aku ngomong gak kamu dengerin???”


Dia Bintang. Bintang masih di sini. Bintang belum pergi.

Aku cuma meringis. Sambil tertawa kecil.

Sampai kapan aku menyembunyikan ini semua?



Dan tanpa Bulan sadari, Bintang telah pergi melangkah, menjauh, meninggalkannya. Matanya yang semula mencari ke mana perginya Bintang, dialihkan oleh sepucuk surat di hadapannya. Lengkap dengan stiker hati kecil berwarna merah glitter.


“Bulan, sahabat kecilku. Terima kasih, karena sinarmu, malamku tidak pernah sepi. Satu hal yang harus kamu tau, aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya kepada gadis lain. Aku harus mengakuinya, aku telah terjatuh kepada bulan yang sangat terang. Dan bulan itu adalah kamu. Tetaplah anggun dengan gaun putihmu. Aku ingin terus melihat senyum bersinar mengembang di wajahmu.”





Hmmmm endingnya. Bintaaaaang...


Entah kenapa aku mengangkat tema persahabatan dan cinta di sini. Sejauh ini, memang fakta kalau sahabat-cowok-cewek gak bisa selamanya sahabatan. Karena gak jarang, dalam persahabatan pasti ada rasa yang berbeda, walaupun sedikit, kan? Bisa saja dua-duanya merasakan, tapi bisa juga bertepuk sebelah tangan. Unrequited love.

Pasti ada satu hal di antara mereka yang bahkan mereka gak bisa mengelak,
Cinta.

Tapi buatku...

Sebisa mungkin aku mempertahankan persahabatan tanpa mencampuradukkan sedikitpun perasaan asing. Perasaan asing yang membuatku canggung. Perasaan yang bila kamu tau, sahabatku, itu akan menghancurkan persahabatan kita...

Karena aku tidak ingin adanya istilah ‘mantan sahabat’.



ps: Cerpen ini khusus buat semua sahabatku. Selamanya kita akan tetap sahabatan. Iya kan teman?

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih telah menjadi salah seorang pembaca jurnalku. Semoga kamu suka. Silakan beri komentar yang baik ya. Biar aku senang. He he ✿
Calon penulis,

Nafi'ah

 

Nafi'ah Indah Mutiara Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting