Bukankah hidup adalah perihal memilih?
Aku dihadapkan dua pilihan.
Aku harus memilih satu.
Dan semoga ini yang terbaik untukku.
Halo selamat malam semua. Sebenarnya sudah lama aku berniat menulis lagi. Tapi agak kerepotan dikarenakan keyboard laptopku yang ‘a’ enggak bisa digunakan. Huft alhasil untuk sementara ini aku pakai onscreen keyboard dulu. Sambil menunggu ada uang datang buat servis. He he.
Banyak dari kalian yang bertanya-tanya. Nafi’ah jadinya lanjut mana sih?
Sebelum aku menjelaskan kepada kalian, ada baiknya aku menceritakan suatu hal yang menjadi latar belakang ini semua.
Kurang lebih dua bulan yang lalu aku resmi meninggalkan masa putih abu-abu. Tapiii... Jujur saat sudah kelas tiga pun aku belum tau aku ingin mengambil jurusan apa untuk SNMPTN (jalur undangan). Terlalu banyak saran hingga aku jadi bingung sendiri.
Aku juga belajar dengan rajin selama SMA. Aku tau betul persaingan di bangku SMA berbeda dengan SMP. Apalagi mengingat sekolahku yang termasuk sekolah favorit di Jogja. Isinya anak pinter semua. Ha ha.
Dan sudah semakin dekat dengan pendaftaran SNMPTN...aku masih bingung coba?!
Akhirnya aku memilih Teknik Geodesi UGM sebagai pilihan pertamaku. Diikuti Biologi UGM dan selanjutnya Pendidikan Biologi UNY. Bodoh. Apa kamu tidak bisa lebih bodoh dari ini, Naf? Jelas-jelas kamu benci banget sama yang namanya Fisika.
Aku tidak berburuk sangka. Hanya saja waktu itu aku sering menebak-nebak bagaimana hasilnya.
Bagaimana...
Hasilnya...
Aku terlalu yakin bakal diterima SNMPTN. Hingga aku tidak pernah belajar untuk SBMPTN ataupun Ujian Mandiri. Aku yakin karena aku sudah mengenali raporku...dan setidaknya tidak banyak temanku yang menulis Teknik Geodesi sebagai pilihan mereka.
Tibalah hari pengumunan SNMPTN.
Kalian tau? Aku menangis seharian!
Bayangkan saja...saudara kembarku diterima dan aku tidak. Aku senang, senang sekali mimpinya menjadi Mahasiswi Akuntansi Universitas Gadjah Mada terwujud. Aku bersyukur. Dan aku...sedih.
Menangis manusiawi kok. Boleh kan?
Sudah sudah. Jangan tanya keadaanku seharian itu. Yang jelas bantalku jadi korban.
Tuh. Lebih sakit mana, ditolak gebetan atau kampus idaman?!
Tapi aku bangkit. Karena aku tau, tidak hanya aku yang mengalami hal semacam ini. Aku baru gagal satu kali sudah mau menyerah. Enggak boleh itu Naf! Banyak jalan menuju ke Rhoma. Dan Tuhan tidak mungkin membiarkan hamba-Nya terlarut-larut dalam kesedihan, bukan? Yang perlu aku lakukan adalah bangun dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Hingga aku bertemu dengan banyak orang. Orang-orang yang dikirimkan oleh Tuhan untuk memberiku dorongan dan juga semangat.
Aku lupa hari itu ada acara apa, yang jelas aku pergi ke sekolah. Saat di depan gerbang hendak pulang, aku dipanggil oleh Pak Satpam sekolah yang memang sudah hafal denganku, bahkan dengan kembaranku juga. Aku ditanya, “Hei, Nok (dhenok=nak dalam bahasa Jawa). Gimana kabarnya? Sudah lama gak ketemu. Gimana pengumumannya?”
Oh. Aku tau. Beliau pasti akan menanyakan hal itu. Dan aku pun menjawabnya. Beliau paham benar kondisiku. Kupikir memang benar, siswa yang baru saja lulus SMA terlebih sorang gadis masih boleh untuk menangis. Pak Satpam pun menenangkanku dengan nasihat yang sungguh bijaksana. Dari dulu aku senang berbincang dengan beliau. Mendengar kisah masa mudanya, perjuangannya menafkahi keluarga, hidupnya yang penuh prihatin dan rasa sabar... Aku semakin tersentuh ketika beliau menguatkanku dengan kata-katanya.
“Masih ada jalan lain. Bapak yakin kamu pasti bisa. Enggak perlu sedih. Banyakin istighfar dan deket lagi sama Allah. Dia Tuhan yang Maha Tau. Dia melihat perjuangan hamba-Nya.”
Aku menangis.
Lagi.
Tak lama setelah itu aku pamit pulang. Aku mencerna baik-baik nasihat dari beliau. Beliau, Pak Is, adalah seorang hamba yang taat beribadah dan mudah dikabulkan doanya.
Saat itulah aku yakin Tuhan juga mau mendengarkan doaku.
Aku hanya belajar tiga minggu untuk SBMPTN.
Les di daerah Kota Baru dari pagi hingga sore.
Kuimbangi dengan ibadah wajib dan sunnah yang semakin aku tekuni...
Mohon dimudahkan dalam segala urusan...
Karena aku tau, Tuhan melihatku.
Tes SBMPTN tanggal 29 Mei 2016. Lokasi ujianku di Fakultas Hukum UGM. Yang aku bingungkan, aku sama sekali enggak deg-degan menjelang dan saat tes SBMPTN. Cuman kedinginan karena AC. Alhasil aku beberapa kali ke belakang sebelum tes dimulai karena pas tes enggak boleh keluar ruangan. Ha ha.
Oh iya. Aku lupa memberitahumu. Selain SBMPTN, aku juga mendaftar Ujian Mandiri UGM dan STAN.
Jadi begini...
Sejak awal masuk Sekolah Menengah Atas, aku sudah meniatkan diri melanjutkan pendidikan di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) di Bintaro sana. Dari dulu aku berharap bisa kuliah di D3 Akuntansi maupun Perpajakan. Aku pun berlatih soal-soal STAN sejak awal kelas tiga SMA. Kebetulan ayahku punya teman yang ketiga putranya lulusan STAN semua. Itulah salah satu hal yang memotivasiku. Nah, salah satu dari ketiganya membelikanku buku prediksi Ujian Saringan Masuk STAN 2016. Selain itu aku juga fotocopy buku punya teman.
Ujian tulis diselenggarakan 15 Mei 2016. Lebih awal dari SBMPTN. Aku dapat lokasi ujian di Politenik API Yogyakarta.
Persiapanku untuk ujian STAN jauh lebih matang ketimbang SBMPTN.
Dan hasilnya? Tentu saja sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Pengumuman hasil ujian tulis STAN tanggal 25 Mei. Aku lolos dan berhak megikuti tes kesehatan dan kebugaran pada tanggal 1 Juni. Saudara kembarku bernasib sama.
Sebelum tes kesehatan aku benar-benar mempersiapkan nih. Aku rajin gosok gigi. Latihan nafas dengan lari sehabis shubuh...dan menjaga pola makan. Karena enggak semua bisa lolos tes kesehatan dan lanjut ke tes kebugaran.
Tes kebugaran ada dua macam, yaitu lari 12 menit dan shuttle run. Aku berhasil lari 6 kali putaran lebih 40 meter. Yeayyyy!
Coba tebak? Aku lolos enggak?
Aku lolos!
Aku senang sekali...!
Yang bikin aku tambah senang soalnya aku ketemu kapten basket SMA Tirto yang jadi idola banyak orang. Tau lah siapa...
Masih ada satu tes lagi yaitu Tes Kemampuan Dasar. Ini semacam tes CPNS gitu. Tesnya terdiri dari tes wawasan kebangsaan, tes intelejensi umum, dan tes karakteristik pribadi. Jadwalku tanggal 21 Juni.
Aku belajar UUD 1945 dan jahatnya yang keluar UUDS 1950. Huft syedih.
Tesnya berbasis komputer. Ada sensasi tersendiri selama TKD. Soalnya orangtua yang mengantar bisa lihat skor kita lewat layar di depan. Udah gitu waktunya mepet banget dan tau-tau udah ada hasil tes di depan mata. Jengjeng!
Aku lolos.
Aku lolos!
Seneng pulang-pulang bisa senyum. Padahal tadi lihat ada anak yang ikut tes juga, nangis mungkin karena nilainya enggak lulus passing grade. Serem banget emang, tes STAN selalu memberlakukan nilai mati.
Eh belum selesai. Masih menunggu pengumuman akhir. Karena enggak semua yang lolos TKD bisa diterima menjadi mahasiswa STAN. Soalnya waktu itu masih ada sekitar 5000an sedangkan yang diambil hanya 3650. Masih menunggu juga aku ditempatkan di prodi apa dan di mana aku kuliah...
Kalau Ujian Mandiri UGM enggak banyak yang bisa aku ceritakan. Materinya lebih gampang ketimbang SBMPTN. Tapi pegelnya lebih pegel daripada ngerjain soal SBMPTN. Bayangin aja. Tes mulai dari jam tujuh selesai jam dua siang!
Pokoknya bulan Mei-Juni-Juli adalah puncaknya aku deg-degan, cemas nunggu pengumuman tiga ujian sekaligus.
SBMPTN tanggal 28 Juni, UM UGM 1 Juli, STAN yang awalnya 29 Juni diundur jadi 1 Juli...
Inilah alasan kenapa aku enggak pernah deg-degan selama ujian.
Banyak dukungan dan doa dari teman-teman yang membuatku semangat.
“Semangat teman-teman, Allah udah nulis jalan buat kita :”)”
“Blm rejekinya nap. Btw selamat ya. Semoga ketrima STAN. Aamiin. Bella.”
“Nafiah jangan patah semangat. Patah hati juga gaboleh.”
“Alhamdulillah semangat ya nappp. Sukses terus pokonya sampai akhir.”
“Nafi semangat ya sbmnya, semoga diberi kelancaran dipermudah ngerjain soal2nya dan lolos aminnn.”
“Semangat naaf, pasti lolos wes!”
“Nafichaaan semangat buat besok eaaaa. Doaku selalu menyertaimu. Semoga diberikan kemudahan kelancaran dan bisa diterima! Aamiin.”
“Semoga ketemu di Jakarta yaaa. Semangat naaafff.”
“Semangat nap. Buktikan ke doi!”
Pesan singkat yang membuatku tersenyum...
Daaaan...Tuhan mendengar doaku dan doa mereka.
Aku dinyatakan lolos SBMPTN S1 Ilmu dan Industri Peternakan. Pilihan terakhir setelah Teknologi Industri Pertanian dan Biologi. Semuanya Universitas Gadjah Mada. Dan yang makin membuatku menangis... aku tidak dikenakan biaya kuliah hingga lulus. Nol rupiah.
Tuhan Maha Kaya, kan?
Aku percaya. Kumpulan doa dari orang banyak itu sangat sangat berarti. Dan aku percaya, doa di antara adzan dan iqomah, doa sehabis sholat fardhu yang ditutup dengan asmaul-husna, doa di kala hujan, doa anak sholeh/sholehah, PASTI dikabulkan. Apalagi hari di mana pengumuman SBMPTN bertepatan dengan malam lailatulqodar.
I do believe...
Bagi yang sudah diterima di UGM melalui jalur SBMPTN, otmatis dinyatakan tidak lolos Ujian Mandiri UGM.
Ya begitulah. Aku tidak terlalu mengkhawatirkan hasil UM UGM ku.
Sedihnya, pernah ayahku bilang gini. “Kalau udah ketrima UGM, STAN enggak usah diambil ya.”
Mimpiku 3 tahun ini dijatuhin gitu aja?
Orangtuaku mengkhawatirkanku. Bagaimana aku hidup di Jakarta sendirian... Memikirkan uang kos dan makan. Apalagi di sana aku kuliah, bukan kerja.
Tapi keberuntungan berpihak padaku. Aku diterima di D1 Kepabeanan dan Cukai. Kampusnya di Jogja! Kurang apa coba?!
Bea cukai adalah pilihanku yang kelima. Tapi entah kenapa aku senang sekali. Buatku pekerja bea cukai itu elegan. Ya gitu deh. Susah dijelasin.
Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya?
Kebingungan menghantuiku.
Di satu sisi nama UGM berarti besar. Hampir semua keluargaku menyarankan agar aku memilih UGM, berharap aku menjadi dosen seperti mereka... tapi di sisi lain aku merasa membuang kesempatan emas yang aku yakin lewat jalan aku kuliah di STAN lah semua mimpiku bisa terwujud. Berencana meng-umrohkan kedua orangtua selepas dua tahun kerja... keliling Indonesia...menjadi punggawa keuangan negara...
Apalagi jika aku mengingat perjuanganku melewati semua tesnya... yang tidak semua orang bisa seberuntung aku.
Keduanya menjadi rejekiku di tahun 2016 ini, alhamdulillah. Memang, pengumuman STAN sudah sejak 1 Juli yang lalu. Pengumuman SBMPTN pun beberapa hari sebelum itu. Banyak pertimbangan antara memilih UGM ataupun STAN. Aku pun registrasi kedua-duanya. Karena waktu itu aku benar-benar bingung dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk memutuskan. Aku jelas, sudah berdoa dan sholat mohon petunjuk kepada Tuhan mana yang harus aku pilih. Dan jawaban dari-Nya adalah STAN. D1 dan S1 jelas berbeda. Tapi buatku, kuliah 4 tahun tujuannya juga untuk mencari kerja. Aku mendapat kesempatan setahun kuliah lulus langsung kerja kenapa tidak. Namun banyak juga yang bilang, kamu akan kehilangan masa kuliah dan masa mudamu kalau di STAN. Itu tidak berlaku buatku. Kenapa? Bertemu dengan orang-orang dari mana pun, termasuk keliling Indonesia yang menjadi cita-citaku sejak kecil (lantaran penempatan kerja di pelabuhan/bandara di seluruh Indonesia). Dan menurutku, Bea Cukai adalah bidangku. Aku senang kegiatan lapangan dan fisik seperti itu.
Insyaallah pada akhirnya, aku juga akan bertemu di titik yang sama dengan saudara kembarku yang memilih S1 Akuntansi UGM. Karena sejatinya semua orang berjalan dengan tempo yang berbeda.
Dan mengenai aku mengikuti PPSMB atau ospek UGM... jangan pernah berpikiran aku hanya main-main. Aku menyelesaikan tugas dengan baik jauh hari sebelumnya.
Di sana aku bertemu dengan orang-orang hebat. Teman satu gugus... teman satu kelompok yang sama-sama sedang berjuang. Aku juga mendapatkan pengalaman berharga yang tidak semua orang bisa memilikinya.
Bangga pernah menjadi bagian dari gadjah mada muda. Walaupun pada akhirnya tanggal 8 Agustus aku resmi mengundurkan diri secara hormat, menghadap kepala Departemen Pendidikan dan Pengajaran serta dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.
Buat kamu yang tidak mengerti, aku harap kamu segera memahami.
Karena banyak hal di balik ini,
Yang bahkan waktu pun merasa dikejar oleh dirinya sendiri
Untuk memutuskan...
Bagiku benar. Hidup bagaikan pesawat kertas. Terbang dan pergi membawa impian. Jangan pernah kamu bandingkan jarak terbangnya. Tetapi bagaimana dan apa yang dilaluinya.
And the dream starts here...
Nafi’ah Indah Mutiara
D1 Kepabeanan dan Cukai 2016