Tuesday, 11 October 2016

Satu Jam Bersama Hujan (Bagian I)

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Tuesday, October 11, 2016 0 comments
Malam itu hujan dan aku masih berdiri di depan gerbang sekolah. Bersyukur sekali tidak ditambah mati lampu. Baiklah, lain kali aku berjanji tidak akan pergi hanya dengan berjalan kaki.

Sumpah aku sangat tidak suka momen macam begini. Mau jadi apa jika semua temanku satu persatu mulai pergi, dan tinggal dua orang saling diam ini?

Mungkin ini takdir bagi perempuan sepertiku. Yang tidak pandai menghidupkan suasana ketika ada seseorang yang... ehm, disukai. Hanya ikut menyumbang tertawa di saat yang lain tertawa.
Kupaksakan mengeluarkan suaraku, dengan tenggorokan yang sudah kering hasil dari 10 menit tanpa obrolan apapun.

"Hai."

Aku sadar betapa lirihnya suaraku barusan. Aku yakin dia juga tidak mendengar. Kuulangi. Kali ini hanya dengan senyuman sekaligus anggukan. Senyum yang kaku tapi penuh rasa ingin terbalas.

Sial. Kenapa matanya cokelat sekaligus penuh warna lain yang memesona? Dan yang terpenting adalah bagaimana bisa seorang manusia sangat ingin memeluk manusia lain dalam keadaan seperti ini?

Tidak usah ditanya lagi. Jelas mataku tidak berani lama-lama memandangnya.
Belum pernah aku secanggung ini, asal kalian tahu.
Tapi hey. Selalu ada saat di mana kita tidak bisa berbicara di depan seseorang, kan?

Iya, kalian benar. Memang aneh kalau kupikir-pikir kembali. Sudah saling mengenal bahkan sebelum kami bertemu untuk yang pertama kalinya. Tepatnya sebelum masa orientasi dimulai. Tapi mau seakrab apapun, seseru bagaimana pun, jika pada akhirnya dipertemukan dengan membawa rasa... ah aku yakin ini tak akan semulus yang kalian kira.


Kembali aku arahkan pandanganku ke jalan raya setelah 2 detik menatapnya.
Berpura-pura tuli akan degup jantungku yang semakin cepat. Kumohon dengan sangat, bisa tolong kecilkan volumenya? Aku takut dia mendengar...

Dan sepertinya itu sampai ke telinganya.

Apa?

Barusan apa?

Dia tersenyum?

Padaku?

Benar kepadaku?


"Kamu kedinginan?"

Dia tersenyum -senyum yang selalu membuatku terpikat.

Aku belum sempat menjawabnya. Masih terobsesi dengan senyum dan tatapannya yang selalu membuatku ingin memeluknya.

Dia lalu mendekat. Dan jarak antara kami menjadi sangat dekat. Tepi celana hitamnya menyentuh batas akhir rokku yang juga hitam.


Seragam kami sama.

Walau jelas perasaan kami jauh berbeda.


Tapi apakah...

Apakah ini tak boleh?

Saturday, 24 September 2016

Yang Telah Hilang

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, September 24, 2016 1 comments
Kalian tau aku suka baca buku. Namun, belakangan ini jariku tersisa terlalu banyak saat menghitung jumlah kehadiranku di toko buku.

Kalian tau aku suka menulis. Aku yakin semenjak inspirasiku menghilang, panjang tulisanku mungkin jadi tak sepanjang berita koran.

Kalian tau aku suka main basket. Ah, aku yakin betul ada yang merindukanku saat ini. Tak lain tak bukan adalah ring, bola, dan lapangan yang memintaku berlari dan berteriak di atasnya lagi.

Dari situlah aku tersadar. Bahwa kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal. Membuat waktu melesat tanpa terasa.

Dan kesibukan berhasil membantuku, terima kasih banyak.
Dia membantuku menghapus yang tidak pantas lagi aku pikirkan.

Yang tidak perlu lagi aku khawatirkan.

Yang tidak patut lagi aku pertanyakan : “Apa kabar ya dia di sana?”



Menunggu yang pergi tuk kembali


Wednesday, 17 August 2016

Keputusan

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Wednesday, August 17, 2016 8 comments
Bukankah hidup adalah perihal memilih?
Aku dihadapkan dua pilihan.
Aku harus memilih satu.
Dan semoga ini yang terbaik untukku.

Halo selamat malam semua. Sebenarnya sudah lama aku berniat menulis lagi. Tapi agak kerepotan dikarenakan keyboard laptopku yang ‘a’ enggak bisa digunakan. Huft alhasil untuk sementara ini aku pakai onscreen keyboard dulu. Sambil menunggu ada uang datang buat servis. He he.
Banyak dari kalian yang bertanya-tanya. Nafi’ah jadinya lanjut mana sih?
Sebelum aku menjelaskan kepada kalian, ada baiknya aku menceritakan suatu hal yang menjadi latar belakang ini semua.
Kurang lebih dua bulan yang lalu aku resmi meninggalkan masa putih abu-abu. Tapiii... Jujur saat sudah kelas tiga pun aku belum tau aku ingin mengambil jurusan apa untuk SNMPTN (jalur undangan). Terlalu banyak saran hingga aku jadi bingung sendiri.
Aku juga belajar dengan rajin selama SMA. Aku tau betul persaingan di bangku SMA berbeda dengan SMP. Apalagi mengingat sekolahku yang termasuk sekolah favorit di Jogja. Isinya anak pinter semua. Ha ha.
Dan sudah semakin dekat dengan pendaftaran SNMPTN...aku masih bingung coba?!
Akhirnya aku memilih Teknik Geodesi UGM sebagai pilihan pertamaku. Diikuti Biologi UGM dan selanjutnya Pendidikan Biologi UNY. Bodoh. Apa kamu tidak bisa lebih bodoh dari ini, Naf? Jelas-jelas kamu benci banget sama yang namanya Fisika.
Aku tidak berburuk sangka. Hanya saja waktu itu aku sering menebak-nebak bagaimana hasilnya.
Bagaimana...
Hasilnya...
Aku terlalu yakin bakal diterima SNMPTN. Hingga aku tidak pernah belajar untuk SBMPTN ataupun Ujian Mandiri. Aku yakin karena aku sudah mengenali raporku...dan setidaknya tidak banyak temanku yang menulis Teknik Geodesi sebagai pilihan mereka.
Tibalah hari pengumunan SNMPTN.
Kalian tau? Aku menangis seharian!
Bayangkan saja...saudara kembarku diterima dan aku tidak. Aku senang, senang sekali mimpinya menjadi Mahasiswi Akuntansi Universitas Gadjah Mada terwujud. Aku bersyukur. Dan aku...sedih.
Menangis manusiawi kok. Boleh kan?
Sudah sudah. Jangan tanya keadaanku seharian itu. Yang jelas bantalku jadi korban.
Tuh. Lebih sakit mana, ditolak gebetan atau kampus idaman?!

Tapi aku bangkit. Karena aku tau, tidak hanya aku yang mengalami hal semacam ini. Aku baru gagal satu kali sudah mau menyerah. Enggak boleh itu Naf! Banyak jalan menuju ke Rhoma. Dan Tuhan tidak mungkin membiarkan hamba-Nya terlarut-larut dalam kesedihan, bukan?  Yang perlu aku lakukan adalah bangun dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Hingga aku bertemu dengan banyak orang. Orang-orang yang dikirimkan oleh Tuhan untuk memberiku dorongan dan juga semangat.
Aku lupa hari itu ada acara apa, yang jelas aku pergi ke sekolah. Saat di depan gerbang hendak pulang, aku dipanggil oleh Pak Satpam sekolah yang memang sudah hafal denganku, bahkan dengan kembaranku juga. Aku ditanya, “Hei, Nok (dhenok=nak dalam bahasa Jawa). Gimana kabarnya? Sudah lama gak ketemu. Gimana pengumumannya?
Oh. Aku tau. Beliau pasti akan menanyakan hal itu. Dan aku pun menjawabnya. Beliau paham benar kondisiku. Kupikir memang benar, siswa yang baru saja lulus SMA terlebih sorang gadis masih boleh untuk menangis. Pak Satpam pun menenangkanku dengan nasihat yang sungguh bijaksana. Dari dulu aku senang berbincang dengan beliau. Mendengar kisah masa mudanya, perjuangannya menafkahi keluarga, hidupnya yang penuh prihatin dan rasa sabar... Aku semakin tersentuh ketika beliau menguatkanku dengan kata-katanya.
Masih ada jalan lain. Bapak yakin kamu pasti bisa. Enggak perlu sedih. Banyakin istighfar dan deket lagi sama Allah. Dia Tuhan yang Maha Tau. Dia melihat perjuangan hamba-Nya.
Aku menangis.
Lagi.
Tak lama setelah itu aku pamit pulang. Aku mencerna baik-baik nasihat dari beliau. Beliau, Pak Is, adalah seorang hamba yang taat beribadah dan mudah dikabulkan doanya.
Saat itulah aku yakin Tuhan juga mau mendengarkan doaku.

Aku hanya belajar tiga minggu untuk SBMPTN.
Les di daerah Kota Baru dari pagi hingga sore.
Kuimbangi dengan ibadah wajib dan sunnah yang semakin aku tekuni...
Mohon dimudahkan dalam segala urusan...
Karena aku tau, Tuhan melihatku.

Tes SBMPTN tanggal 29 Mei 2016. Lokasi ujianku di Fakultas Hukum UGM. Yang aku bingungkan, aku sama sekali enggak deg-degan menjelang dan saat tes SBMPTN. Cuman kedinginan karena AC. Alhasil aku beberapa kali ke belakang sebelum tes dimulai karena pas tes enggak boleh keluar ruangan. Ha ha.
Oh iya. Aku lupa memberitahumu. Selain SBMPTN, aku juga mendaftar Ujian Mandiri UGM dan STAN.
Jadi begini...
Sejak awal masuk Sekolah Menengah Atas, aku sudah meniatkan diri melanjutkan pendidikan di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) di Bintaro sana. Dari dulu aku berharap bisa kuliah di D3 Akuntansi maupun Perpajakan. Aku pun berlatih soal-soal STAN sejak awal kelas tiga SMA. Kebetulan ayahku punya teman yang ketiga putranya lulusan STAN semua. Itulah salah satu hal yang memotivasiku. Nah, salah satu dari ketiganya membelikanku buku prediksi Ujian Saringan Masuk STAN 2016. Selain itu aku juga fotocopy buku punya teman.
Ujian tulis diselenggarakan 15 Mei 2016. Lebih awal dari SBMPTN. Aku dapat lokasi ujian di Politenik API Yogyakarta.
Persiapanku untuk ujian STAN jauh lebih matang ketimbang SBMPTN.
Dan hasilnya? Tentu saja sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Pengumuman hasil ujian tulis STAN tanggal 25 Mei. Aku lolos dan berhak megikuti tes kesehatan dan kebugaran pada tanggal 1 Juni. Saudara kembarku bernasib sama.
Sebelum tes kesehatan aku benar-benar mempersiapkan nih. Aku rajin gosok gigi. Latihan nafas dengan lari sehabis shubuh...dan menjaga pola makan. Karena enggak semua bisa lolos tes kesehatan dan lanjut ke tes kebugaran.
Tes kebugaran ada dua macam, yaitu lari 12 menit dan shuttle run. Aku berhasil lari 6 kali putaran lebih 40 meter. Yeayyyy!
Coba tebak? Aku lolos enggak?
Aku lolos!
Aku senang sekali...!
Yang bikin aku tambah senang soalnya aku ketemu kapten basket SMA Tirto yang jadi idola banyak orang. Tau lah siapa...
Masih ada satu tes lagi yaitu Tes Kemampuan Dasar. Ini semacam tes CPNS gitu. Tesnya terdiri dari tes wawasan kebangsaan, tes intelejensi umum, dan tes karakteristik pribadi. Jadwalku tanggal 21 Juni.
Aku belajar UUD 1945 dan jahatnya yang keluar UUDS 1950. Huft syedih.
Tesnya berbasis komputer. Ada sensasi tersendiri selama TKD. Soalnya orangtua yang mengantar bisa lihat skor kita lewat layar di depan. Udah gitu waktunya mepet banget dan tau-tau udah ada hasil tes di depan mata. Jengjeng!
Aku lolos.
Aku lolos!
Seneng pulang-pulang bisa senyum. Padahal tadi lihat ada anak yang ikut tes juga, nangis mungkin karena nilainya enggak lulus passing grade. Serem banget emang, tes STAN selalu memberlakukan nilai mati.
Eh belum selesai. Masih menunggu pengumuman akhir. Karena enggak semua yang lolos TKD bisa diterima menjadi mahasiswa STAN. Soalnya waktu itu masih ada sekitar 5000an sedangkan yang diambil hanya 3650. Masih menunggu juga aku ditempatkan di prodi apa dan di mana aku kuliah...

Kalau Ujian Mandiri UGM enggak banyak yang bisa aku ceritakan. Materinya lebih gampang ketimbang SBMPTN. Tapi pegelnya lebih pegel daripada ngerjain soal SBMPTN. Bayangin aja. Tes mulai dari jam tujuh selesai jam dua siang!

Pokoknya bulan Mei-Juni-Juli adalah puncaknya aku deg-degan, cemas nunggu pengumuman tiga ujian sekaligus.
SBMPTN tanggal 28 Juni, UM UGM 1 Juli, STAN yang awalnya 29 Juni diundur jadi 1 Juli...

Inilah alasan kenapa aku enggak pernah deg-degan selama ujian.
Banyak dukungan dan doa dari teman-teman yang membuatku semangat.

“Semangat teman-teman, Allah udah nulis jalan buat kita :”)”
“Blm rejekinya nap. Btw selamat ya. Semoga ketrima STAN. Aamiin. Bella.”
“Nafiah jangan patah semangat. Patah hati juga gaboleh.”
“Alhamdulillah semangat ya nappp. Sukses terus pokonya sampai akhir.”
“Nafi semangat ya sbmnya, semoga diberi kelancaran dipermudah ngerjain soal2nya dan lolos aminnn.”
“Semangat naaf, pasti lolos wes!”
“Nafichaaan semangat buat besok eaaaa. Doaku selalu menyertaimu. Semoga diberikan kemudahan kelancaran dan bisa diterima! Aamiin.”
“Semoga ketemu di Jakarta yaaa. Semangat naaafff.”
“Semangat nap. Buktikan ke doi!”

Pesan singkat yang membuatku tersenyum...

Daaaan...Tuhan mendengar doaku dan doa mereka.
Aku dinyatakan lolos SBMPTN S1 Ilmu dan Industri Peternakan. Pilihan terakhir setelah Teknologi Industri Pertanian dan Biologi. Semuanya Universitas Gadjah Mada. Dan yang makin membuatku menangis... aku tidak dikenakan biaya kuliah hingga lulus. Nol rupiah.
Tuhan Maha Kaya, kan?
Aku percaya. Kumpulan doa dari orang banyak itu sangat sangat berarti. Dan aku percaya, doa di antara adzan dan iqomah, doa sehabis sholat fardhu yang ditutup dengan asmaul-husna, doa di kala hujan, doa anak sholeh/sholehah, PASTI dikabulkan. Apalagi hari di mana pengumuman SBMPTN bertepatan dengan malam lailatulqodar.
I do believe...

Bagi yang sudah diterima di UGM melalui jalur SBMPTN, otmatis dinyatakan tidak lolos Ujian Mandiri UGM.
Ya begitulah. Aku tidak terlalu mengkhawatirkan hasil UM UGM ku.
Sedihnya, pernah ayahku bilang gini. “Kalau udah ketrima UGM, STAN enggak usah diambil ya.”
Mimpiku 3 tahun ini dijatuhin gitu aja?
Orangtuaku mengkhawatirkanku. Bagaimana aku hidup di Jakarta sendirian... Memikirkan uang kos dan makan. Apalagi di sana aku kuliah, bukan kerja.
Tapi keberuntungan berpihak padaku. Aku diterima di D1 Kepabeanan dan Cukai. Kampusnya di Jogja! Kurang apa coba?!
Bea cukai adalah pilihanku yang kelima. Tapi entah kenapa aku senang sekali. Buatku pekerja bea cukai itu elegan. Ya gitu deh. Susah dijelasin.
Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya?
Kebingungan menghantuiku.
Di satu sisi nama UGM berarti besar. Hampir semua keluargaku menyarankan agar aku memilih UGM, berharap aku menjadi dosen seperti mereka... tapi di sisi lain aku merasa membuang kesempatan emas yang aku yakin lewat jalan aku kuliah di STAN lah semua mimpiku bisa terwujud. Berencana meng-umrohkan kedua orangtua selepas dua tahun kerja... keliling Indonesia...menjadi punggawa keuangan negara...
Apalagi jika aku mengingat perjuanganku melewati semua tesnya... yang tidak semua orang bisa seberuntung aku.

Keduanya menjadi rejekiku di tahun 2016 ini, alhamdulillah. Memang, pengumuman STAN sudah sejak 1 Juli yang lalu. Pengumuman SBMPTN pun beberapa hari sebelum itu. Banyak pertimbangan antara memilih UGM ataupun STAN. Aku pun registrasi kedua-duanya. Karena waktu itu aku benar-benar bingung dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk memutuskan. Aku jelas, sudah berdoa dan sholat mohon petunjuk kepada Tuhan mana yang harus aku pilih. Dan jawaban dari-Nya adalah STAN. D1 dan S1 jelas berbeda. Tapi buatku, kuliah 4 tahun tujuannya juga untuk mencari kerja. Aku mendapat kesempatan setahun kuliah lulus langsung kerja kenapa tidak. Namun banyak juga yang bilang, kamu akan kehilangan masa kuliah dan masa mudamu kalau di STAN. Itu tidak berlaku buatku. Kenapa? Bertemu dengan orang-orang dari mana pun, termasuk keliling Indonesia yang menjadi cita-citaku sejak kecil (lantaran penempatan kerja di pelabuhan/bandara di seluruh Indonesia). Dan menurutku, Bea Cukai adalah bidangku. Aku senang kegiatan lapangan dan fisik seperti itu.

Insyaallah pada akhirnya, aku juga akan bertemu di titik yang sama dengan saudara kembarku yang memilih S1 Akuntansi UGM. Karena sejatinya semua orang berjalan dengan tempo yang berbeda.

Dan mengenai aku mengikuti PPSMB atau ospek UGM... jangan pernah berpikiran aku hanya main-main. Aku menyelesaikan tugas dengan baik jauh hari sebelumnya.
Di sana aku bertemu dengan orang-orang hebat. Teman satu gugus... teman satu kelompok yang sama-sama sedang berjuang. Aku juga mendapatkan pengalaman berharga yang tidak semua orang bisa memilikinya.
Bangga pernah menjadi bagian dari gadjah mada muda. Walaupun pada akhirnya tanggal 8 Agustus aku resmi mengundurkan diri secara hormat, menghadap kepala Departemen Pendidikan dan Pengajaran serta dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada.

Buat kamu yang tidak mengerti, aku harap kamu segera memahami.
Karena banyak hal di balik ini,
Yang bahkan waktu pun merasa dikejar oleh dirinya sendiri
Untuk memutuskan...

Bagiku benar. Hidup bagaikan pesawat kertas. Terbang dan pergi membawa impian. Jangan pernah kamu bandingkan jarak terbangnya. Tetapi bagaimana dan apa yang dilaluinya.

And the dream starts here...

Nafi’ah Indah Mutiara
D1 Kepabeanan dan Cukai 2016

Wednesday, 6 July 2016

Sisi Lain

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Wednesday, July 06, 2016 0 comments
Saat ini aku masih terjaga dengan headphone di kepalaku dan menatap layar laptop dengan bantuan lensa. Kalau tidak karena lagu dari Rachel Platten yang mengusir rasa sepi, mungkin aku sudah sedari tadi menatap nanar sampai pikiranku menjadi kosong. Dan gila. Ah terlalu berlebihan kurasa.

Tapi tiba-tiba benakku dipenuhi oleh satu pertanyaan. Satu saja sudah membuatku seperti ini. Ya, namanya juga Nafi’ah. Gadis dengan sejuta mimpi dan pertanyaan.

Pertanyaan yang mungkin jawabannya hanya dapat aku ketahui lewat diriku sendiri.

Apakah aku cukup baik di mata orang?

Maaf jika aku menyebut dia lagi di sini. Karena dia adalah virusnya. Salahkan dia.

Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu, bahwa aku telah menetapkan tiga teratas yang menjadi motivasiku melakukan berbagai hal. Pertama Tuhan, kedua orangtua, dan ketiga dia.


Kalau boleh aku uraikan beberapa...

Aku berhasil lulus Ujian Saringan Masuk STAN, mengalahkan 150 ribu lebih peserta karena aku mengingat mereka.

Bahkan lari 6 kali putaran lebih di lapangan yang sangat luas untuk tes fisik pun aku sanggup. Karena mereka.

Tes SBMPTN yang tidak pernah kuharapkan sebelumnya, aku berhasil lolos dan diterima menjadi mahasiswi Universitas Gadjah Mada. Karena mereka juga...

Tuhan yang menganugerahiku otak, akal, dan pikiran...

Orangtua ku yang selalu mendoakan yang terbaik bagi putrinya...

Dan dia yang selalu aku ingat agar aku bisa membuktikan kepadanya bahwa... aku bisa.

Buat kamu yang telah dipilih dia.
Maaf, kamu yang lebih dariku.
Atau banyak dari kalian yang jauh lebih pandai dariku.
Aku hanya meluruskan hakku. Bahwa setiap manusia boleh mencintai.

Aku bukan malaikat.
Aku bukan pula orang jahat.

Tapi kalau dia yang kumaksud justru menganggapku tak baik. Sampai-sampai semua orang disapa sedangkan aku tidak...

Aku tidak apa. Aku harus menerimanya, ‘kan?
Ah, terlalu naif memang.

Hanya saja, yang perlu aku lakukan sekarang adalah membenahi diri. Mempersiapkan menjadi yang terbaik. Aku tetap akan menjadi aku. Kamu biarlah menjadi kamu. Tak perlu takut dan khawatir mau dinilai bagaimana.

Aku juga harus berusaha berhenti menjadikannya motivasi. Karena ternyata jika yang menjadi motivasimu adalah seseorang. Maka ketika suatu saat dia pergi, semua motivasimu akan menghilang. Dan aku akan semakin berdosa dan justru memberi cap namaku sebagai orang yang jahat jika aku terus melakukannya. Karena ada orang lain yang lebih berhak atas itu.

Tapi hei. Kamu pikir, dari semua sisi diriku,
benar-benar tidak ingin melihat lebih?


Atau memang semua orang begitu? Termasuk dia juga, yang hanya menilai seseorang dari dua sisi?



Salam dari gadis yang udah resmi move-on,



Nafi’ah.

Saturday, 25 June 2016

Hitam Putih

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Saturday, June 25, 2016 0 comments


Ini tentang aku.
Aku yang mati-matian
menahan perasaanku.
Tentang kamu.
Kamu yang mati-matian
mematikan hatiku.

Perlahan-lahan kurasakan.
Pandangan ini semakin kabur.




Kuarahkan bola mataku.
Ke kanan…
Ke kiri…

Yang ada hanya
Hitam.
Putih.
Semakin membaur
Dan membaur…
Aku mati.




Tidak ada kita yang sama.
Tidak ada kita yang dahulu.

Apakah aku benar-benar melihat?
Apakah ini yang semua orang lihat?
Dua insan yang tak lagi saling sapa.



Aku akan terus menulis.
Karena kamu lah alasan aku tetap menulis.

Memang dasar.
Rasa ini tak tahu malu.
Kian menggebu meski diabaikan.
Pandang ini terus mencari.
Meski sadar tak pernah dicari.

Biarlah…
Bukankah aku berhak mencintai?




Jangan hiraukan gambar terakhir.




Gadis yang sedang rindu eskrim,


Nafi’ah.

Tuesday, 7 June 2016

Topeng

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Tuesday, June 07, 2016 0 comments


Akhirnya badan ini tergerak setelah terbaring cukup lama di tempat tidur. Setelah beberapa kegiatan yang sangat menyita perhatianku dari akhir Mei hingga awal Juni ini. Melaksanakan tiga macam ujian, berangkat sejak matahari belum muncul. Tau-tau di rumah langit sudah gelap lagi. Sepertinya tidur seharian adalah tindakan yang dibenarkan.

Sudah cukup lama setelah post terakhirku di sini. Ada yang menunggu, ada juga yang tidak. Dan untuk kalian yang menyempatkan diri membaca, aku persilakan. Tapi jangan bingung, ini akan jadi sangat tidak jelas. Perlu keahlian khusus menganalisa pesan tersirat, bukan tersurat.

Kemarin malam insomnia datang lagi. Aku memang begitu. Kadang bisa tidur dengan laaammmaaaaaanya. Tidur 19 menit pun aku pernah (bukan termasuk tidur di kelas lho). Aku baru bisa terlelap pukul setengah 1 dini hari. Sebenarnya ada banyak cara agar aku bisa cepat tidur. Pasang earphone, misalnya. Ditambah masih ada 3 buku di rak yang belum sempat aku baca. Biasanya kalau aku baca buku sambil tiduran tau-tau udah merem gitu aja. Tapi aku sudah melakukan kedua hal itu. Tetap saja tidak mempan.  Huh merepotkan!

Tiba-tiba aja aku jadi ingin nyelem galeri di HP, dan membuka satu album. Aku nemu video yang dulu setiap hari aku putar, as a lullaby for me. Beethoven. Kenapa? Kenapa aku suka lagu itu? Sudah aku ceritakan alasannya kepada kalian di postku terdahulu. Aku juga membuka puluhan screenshots percakapan yang... ya memang hanya dengan cara itu aku bisa terus mengingat ucapan seseorang. Silakan bertepuk tangan karena seperti yang sudah kalian duga ini akan berujung curcol alias curhat colongan. Hahaha.

Well, I just found out recently.

Kesedihan dan kebahagiaan adalah dua sisi yang berbeda, yang dapat dengan mudahnya bertukar tempat. Detik ini kita tertawa, namun esoknya kita menangis. Itu hal yang biasa. Maka dari itu, bersedihlah seperlunya, dan berbahagialah sewajarnya.

Aku paham benar teori itu. Tapi apa kamu belum pernah merasakan apa itu kebingungan? Apa yang harus aku rasakan pun, saat itu aku tidak tau. Kombinasi dari keduanya. Aku jelas sedih, maksudku... secepat itukah? Tapi di sisi lain, aku juga harus mendukungnya... setidaknya memberikan dia dorongan supaya lebih semangat dalam meraih mimpinya. Bukankah dulu aku pernah berkata jika dia bahagia aku juga bahagia?

Ya. Semua orang memang butuh topeng. Aku, kamu, kita. Karena kita adalah sosok yang sama. Aku bisa saja berpura-pura bahagia. Tapi tidak jika aku gunakan topeng itu untuk keluargaku, temanku, sahabatku, bahkan dirinya. Aku tidak bisa.

Mungkin karena aku percaya banget sama istilah ‘membaca mata’. Jadi saat diajak bicara, seseorang bisa membaca karakter dari mata. Mereka tau apa yang sedang kita alami. Bahkan ketika kita mengenakan topeng. Ada kalanya topeng itu dilepas atau terlepas dengan sendirinya. Mau kamu tertutup apapun, karena aku tau semua orang memiliki hati...dan yang terpenting perasaan. Sepasang mata menunjukkannya.

Aku pun berusaha bahagia.

Tapi mungkin tepatnya hal yang sedang aku rasakan ini adalah kecewa. Kenapa orang-orang datang silih berganti hanya untuk pergi?

Aku tidak lupa kalau setiap orang juga bisa kecewa. Karena aku mengalaminya. Aku punya masa-masa berat, masa-masa di mana aku merasa kesal, aku ditinggal. Aku pun menanyakan kembali kepada Tuhan, kenapa orang meninggalkanku?

Kekecewaan adalah hal manusiawi, bukan?

Aku bisa saja kecewa terhadap dia yang meninggalkanku. Dia juga boleh kecewa atas sikapku.

Tapi aku tidak pernah berharap sesuatu kembali, jika ia pergi karena kesalahanku sendiri. Mungkin karena keterlambatanku. Ya begitulah. Aku kecewa berpisah dengannya dalam akhir yang sedih.

Tapi kembali ke tadi. Aku sama seperti kalian. Hati dan pilihan manusia memang rumit. Aku juga sudah belajar untuk mengerti dan menerima. Karena hidup terus berjalan... dan mungkin orang itu hanya akan tetap menjadi bagian kecil dari hidupku. Tidak lebih.


Dan pada akhirnya kamu akan dipertemukan kembali.

Dengan sosok yang kamu rindukan.

 

Nafi'ah Indah Mutiara Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting