Waktu berlalu begitu cepat
ya? Seperti apa hari kalian? Meskipun ada hal yang sedih dan memberatkan, tidak
apa asalkan yang bahagia lebih banyak. Setuju gak? Aku sih yes!
Kalau orang-orang bilang
hidup adalah tentang perpisahan, buatku itu bohong banget. Karena kalau begitu,
enggak ada artinya "saling mengenal", bukan?
Tidak berbeda dari biasanya,
tulisanku ini akan berujung curcol alias curhat colongan. Ha ha.
Yang agak spesial, tulisanku
kali ini berisi nasihat penting. Ya walaupun si penulis juga susah
mempraktikkan. He he. Akan sangat senang kalau kamu-kamu semua mau baca. Kalau
gak, bacanya sampai sini saja gapapa kok. He he.
Siapa yang tidak suka dengan
pertemuan?
Aku senang, senang sekali
dipertemukan dengan orang banyak. Sudah 19 tahun aku di dunia, enggak terhitung
berapa banyak orang yang kutemui. Sekaligus meninggalkan pengalaman berharga di
setiap pertemuannya.
Tidak sedikit pula yang
takut dengan pertemuan karena sejatinya pertemuanlah yang mengantarkan kepada
perpisahan. Yang ini setuju enggak?
Kadang aku juga berpikir.
Kenapa orang-orang datang silih berganti hanya untuk pergi?
Tidak jauh berbeda dari
pertanyaan barusan, kenapa diciptakan hati kalau pada akhirnya akan dipatahkan?
Tapi mari kita pikirkan
sejenak.
Seberapa besar ketakutanmu
akan perpisahan, akan dikalahkan oleh hati yang lapang karena syukur yang kita
ucapkan atas pertemuan kita dengan orang-orang.
Bukan masalah dengan siapa
kita dipertemukan. Melainkan hal-hal berharga yang tidak ada duanya, yang orang-orang
tinggalkan kepada kita.
Nah. Bagaimana kalau
pertemuan itu justru menyakitkan? Lebih menyakitkan ketimbang perpisahan?
Begini. Aku pernah belajar.
Terkadang orang yang pernah menyakiti kita sampai sesakit-sakitnya, justru dia
lah yang memegang kunci kesembuhan kita.
Pada intinya, dengan
jatuhnya kamu ataupun kecewanya kamu, semua itu akan membawamu kepada yang jauh
lebih baik. Tanpa kamu sadari kamu akan menjadi lebih kuat dan mampu menghadapi
dunia. Setiap terluka malah jadi semakin dewasa. Gampangannya, today's tears
are tomorrow's strength. He he.
Maka dari itu,
berterimakasihlah kepada mereka.
Perlu kita ingat.
Setiap orang datang dengan
caranya sendiri. Bersama dengan perwatakan masing-masing. Bahkan ada pula yang
datang (ini terjadi kepadaku juga) dengan membawa rasa. Ah, yang terakhir ini
sepertinya berat.
Dengan pertemuan-pertemuan
yang telah terjadi, aku jadi tau bahwa setiap orang itu tak sama. Bagaimana
mereka tersenyum, berjalan, berbicara, pun berbeda-beda. Enggak jarang juga,
kan, topeng mereka kenakan? Bahkan di akhir cerita pun kamu akan tau wajah
sebenarnya di balik topeng mereka :)
Tuhan selalu punya cara
mempertemukan kita dengan siapa saja, di mana saja, kapan saja, dengan cara
yang tidak terduga.
Aku juga selalu ingat. Bahwa
orang yang dipertemukan oleh Tuhan kepada kita, juga dipertemukan dengan orang
lain. Jadi wajar bila hidup selalu memberikan pilihan. Ke mana, kepada siapa,
dan atas dasar apa dia menjatuhkan pilihan kepada seseorang yang ditemui dalam
hidupnya.
Aku sedang belajar untuk
tidak meminta dia datang ke arahku. Karena aku tidak bisa melakukan apa yang
disebut memaksa. Apalagi ini berkaitan dengan hati manusia.
Yang jelas terima kasih
banyak kamu sudah mau datang di masaku. Di abad ke-21 ini he he.
Aku senang dipertemukan
denganmu.
Aku sangat senang
mengenalmu.
Tidak perlu lagi memikirkan
betapa keras hatinya tidak acuh kepadaku. Betapa canggung sikapnya ketika di
dekatku. Betapa pura-puranya... ya begitulah. Pokoknya semua itu
tidak-perlu-lagi.
Aku hanya perlu berubah.
Dan mengubahnya.
Dan buatku, perubahan tanpa
keyakinan yang kuat dan kesabaran yang ekstra untuk mencapai tujuan adalah
omong kosong besar.
Sabar.
Sabar lagi.
Sabar terus.
Sampai kamu lupa bahwa
dirimu sedang bersabar.
Percayalah. Sekeras apapun
hati seseorang, bila disentuh dengan hati yang lembut, akan luluh juga.
Bukan motivator,
Nafi'ah.

