Friday, 20 May 2016

Dua Kata

Posted by Nafi'ah Indah Mutiara at Friday, May 20, 2016
Dan berjalanlah minggu-minggu kosong sebelum hari kelulusan dengan sangat lamban... Tapi dengan begitu, aku sangat bersyukur detik demi detik itu seakan mengerti apa yang sedang aku risaukan. Jika hari itu datang, aku harus mengucapkan dua kata yang paling aku benci kepada orang yang sangat aku cintai.

Dion.
Matahariku.

Awal pertama aku melihatnya, aku biasa saja. Aku hanya sekadar ‘tahu’ dia dari setiap pembicaraan guru Fisika yang selalu menyebut namanya di sela-sela pelajaran. Dia si Future Einstein yang tidak pernah mendapat nilai di bawah sembilan untuk Fisika. Dia yang menitipkan spaghetti buatan mamanya ke kantin sekolah saat kelas sepuluh. Dia yang pada akhirnya satu kelas denganku di kelas 11 hingga 12.

Dia yang paling aku benci.

Jenius, memang kuakui. Dia yang jarang berbicara kepadaku. Tapi entah kenapa dengan perempuan lain dia selalu bertingkah biasa saja, bahkan bisa meramaikan suasana. Selalu bersikap dingin dan jutek. Kekanak-kanakan dan tidak mau mengalah itulah Dion. Pokoknya aku benci dia.

Semenjak itulah aku menaruh namanya di peringkat pertama daftar musuhku.
 
Tapi semua itu justru berubah.

Anehnya aku malah bersikap biasa saja kepadanya. Tidak menunjukkan sedikitpun rasa benciku. Bersama-sama membuat jadwal belajar sehabis pulang sekolah. Bahkan kami sangat dekat saat menjelang Ujian Tengah Semester kelas 12. Dia memang laki-laki yang bisa diandalkan dalam hal pelajaran. Beberapa kali aku duduk berhadapan dengannya. Tanpa memperdulikan tatapan ngiler adik kelas ‘ih-gue-juga-mau-kali’.

HAHAHA. Ingin rasanya menertawakan diriku keras-keras dan menampar wajahku, dengan fakta bahwa memang setipis itukah garis yang memisahkan dua hal yang bertolak belakang, benci dan cinta?

Baiklah. Terlalu awal buatku membicarakan cinta di sini. Toh aku hanya seorang gadis yang baru saja lulus sekolah menengah atas... Hanya gadis yang beraninya memendam!

Anggap saja Dion yang bertingkah kekanak-kanakan dan menjengkelkan berubah menjadi sosok yang kuperhatikan gerak-geriknya.

Semakin lama aku memperhatikannya, semakin aku terbiasa mampu bertahan melihat senyumnya –sebelumnya tidak kuat– Semakin jauh ke sini pula aku mulai berjumpa dengan bayangan yang tidak pernah kuharapkan.

Yaitu,

Ketakutan.

Sebenarnya ketakutan terbesarku saat ini adalah dia yang akan melanjutkan studinya ke luar kota. Di salah satu universitas ternama di Indonesia. Seharusnya aku bersyukur dia masih ada di tempat yang bisa aku jangkau. Setidaknya masih di tanah air, bukan?

Dan aku sendiri sudah tahu dulu Dion pernah bercerita kalau dia memang ingin kuliah di sana. Seakan menolak aku tidak pernah ingin ingat dengan fakta itu. Yang aku tanamkan di otakku saat ini adalah Dion di sini. Dion gak akan pergi.

Selama ini masa depan yang aku tata pun hanya untuk Dion. Karena dia yang menjadikanku begini. Mengubah hidupku. Berusaha baik dalam pelajaran... Ikut berbagai macam lomba dan menjuarainya. Untuk siapa? Untuk Dion.

Dion yang selalu menjadi alasan aku melakukan ini...melakukan itu. Menunjukkan padanya bahwa aku ini wanita yang pantas ia lihat. Bahkan hal sesulit apapun dapat aku lakukan jika aku mengingatnya.

Tapi kalau pada akhirnya kamu harus pergi, Di? Siapa yang akan menjadi alasan atas apa yang aku lakukan?

Dan Dion, haruskah dua kata yang paling aku benci itu terlontar dari mulutku?

3 comments:

Bella's Story on 3 June 2016 at 18:39 said...

good bye?

Nafi'ah Indah Mutiara on 19 August 2016 at 05:40 said...

More than it😷

Nafi'ah Indah Mutiara on 19 August 2016 at 05:40 said...

More than it😷

Post a Comment

Terima kasih telah menjadi salah seorang pembaca jurnalku. Semoga kamu suka. Silakan beri komentar yang baik ya. Biar aku senang. He he ✿
Calon penulis,

Nafi'ah

 

Nafi'ah Indah Mutiara Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting