Hai yang di sana,
Selamat malam.
Sesuai
janjiku, setelah pulang aku akan menceritakan kepada kalian bagaimana tiga
hariku di ibu kota.
Sebenarnya
sudah dari kemarin sore sih aku tiba di rumah. Tapi karena lelah mungkin tidur
panjang diperkenankan lah ya. Tau sendiri kan capeknya di perjalanan?
Salah
satu mimpi besarku akhirnya terwujud juga. Yaitu pergi ke ibu kota. Ada satu
misi khusus yang menggiringku ke sana.
Aku dan
ayahku berangkat dari Stasiun Lempuyangan Kamis, 28 April 2016 pukul 9 pagi, dan tiba di Stasiun
Pasar Senen sekitar pukul 6 sore. Untuk mengusir kejenuhanku aku sudah
mempersiapkan satu novel supertebal –yang sampai sekarang belum tamat kubaca
sih. Tapi dengan itu, seenggaknya pemandanganku nggak hanya sebatas sawah dan
rumah–rumah penduduk. Aku juga makan siang di kereta, bawa bekal dari rumah.
Dan
nggak kerasa sudah tiba di tujuan. Kami buru-buru turun soalnya si Mas–yang
tinggal di Depok– udah nunggu di depan stasiun. Tapi dia nelfon katanya sholat
dulu aja mumpung belum maghrib. Jadinya aku ke mushola. Dan sialnya ada satu
insiden tas hilang. Masih syukur tas yang hilang cuman isi wadah nasi sama
biskuit kelapa–yang baru kemakan beberapa. Kalau tas yang isinya handphone sama
baju tetep tak bawa masuk. Jadi ceritanya ada seseorang yang katanya sih
penjaga mushola di situ. Aku mikirnya juga gitu sih soalnya si bapak pakai peci.
Udah gitu di sekitar ada polisi pengaman stasiun jadi ya aku mikir cuman wadah
makan siapa yang mau ngambil. Dan aku udah bawa tas gendong berat sama tas isi
tiket, handphone, dan segala macam yang penting. Aku nggak mungkin bisa bawa
tas lebih ke ruang wudhu yang pintunya sempit. Etdah barang ditinggal nggak
nyampe 2 menit aja bisa ilang ya. Terus aku tanya kan ke bapak penjaga mushola
itu lihat tas warna ijo enggak. Ngeselinnya si bapak malah marah-marah gitu.
Sambil bentak lagi. Padahal kan aku nanyanya udah sopan dan baik-baik?! Ini
jadi pelajaran buatku biar bisa lebih hati-hati dan nggak percayaan sama orang.
Lagipula, kalau kita lagi di tanah orang, mau nggak mau kita harus bisa sabar
dan ngalah. Jangan sampai orang itu naik pitam sampai ngelaporin yang
enggak-enggak. Malah memutar balikkan fakta, repot kan jadinya?
Seusai
sholat Mas ku udah standby di depan. Kami langsung ke Depok bermalam di sana.
Dan
inilah saat yang aku nanti-nantikan tiba.
Tujuan
utamaku datang ke kota Jakarta.
Jumat
, 29 April 2016.
Setelah
menembus kemacetan yang cukup panjang akhirnya aku tiba juga di sini. ‘Rumah’
para member JKT48.
Pada
awalnya hanya sebuah mimpi yang aku tuliskan di mading kamarku. Berbekal uang
tabungan aku memantapkan hati pergi ke Jakarta menemui mereka.
Aku
awalnya sama sekali nggak ngeh sama sistem masuk teater. Selama di perjalanan
pun aku browsing step nonton teater itu gimana. Sama aja nggak paham-paham. Istilah
nomor bingo lah, encore...dll.
Mana
aku nontonnya sendiri. Tiada yang menemani. Huhuhu.
Deg-degan...
Akhirnya
aku sampai di lantai 4 FX Sudirman. Aku kaget banget. Dan emang ini adalah
pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Di sana udah ada
orang-orang yang antre.
“Wah, pasti mereka mau nuker tiket.”
Pikirku.
Setelah
ngikut antrean cukup lama sekaligus masih penuh keraguan, aku baru berani tanya
ke salah satu cowok di depanku. Dan ya benar, mereka bukan antre buat nukar
email. Mereka beli tiket handshake!
Malu
banget deh rasanya.
Terus
aku dikasih tau sama dia kalau mau ambil tiket teater di loket sebelah kiri.
Setelah
nukar email verifikasi, petugasnya bilang kalau aku bisa balik ke sini–ke
teater– pukul setengah tujuh.
Alhasil
aku keliling mall dulu sambil cari makan.
Pas
balik ke lantai 4 ternyata orang yang pada mau nonton tambah banyak. Aku hanya
1 dari 10 cewek di sana. Dan seharusnya keberadaanku saat itu cukup mencolok ya
di tengah kerumunan para penonton yang mostly cowok.
Aku
sama sekali nggak paham sama sistem panggil nomor bingonya. Aku dapat nomor
bingo 3. Dan aku pun sadar akan pepatah kalau malu bertanya sesat di jalan.
Akhirnya aku tanya ke dua cowok yang juga nonton teater hari itu. Aku dikasih
arahan, stepnya gimana, sampai aku bener-bener paham.
Habis
itu sambil nunggu waktu kita ngobrol-ngobrol bentar.
Tiketku
warna ijo, kategori far. Pas aku udah antre aku dibilangin sama mereka kalau
fans far langsung maju ke depan aja. Nanti satpamnya bakal nyuruh masuk lebih
awal. Ternyata bener. Tapi sedihnya aku satu-satunya fans far waktu itu dan
otomatis jadi pusat perhatian karena aku bikin barisan sendiri. Udah gitu
barisannya di depan pula. Untung pak satpamnya langsung nyuruh aku masuk.
Yaudah deh aku buru-buru masuk. Udah nggak sabar pokonya!
Pas
aku masuk udah ada hampir setengah dari kapasitas penonton yang masuk. Dan
makin lama makin banyak. Pupus sudah harapanku duduk di row depan. Kata petugas
di depan tadi aku harus duduk di kursi hijau di bagian ‘FAR’. Mana aku ngerti
kursi far yang sebelah mana. Walaupun ada tulisannya pun, aku sembarang duduk
di kursi yang penting warna hijau. Keburu penuh kan. Nggak punya teman ngobrol yaudah
aku asik main hape walaupun sekadar buka-tutup galeri. Mana belakangku orang
pacaran pula. Huft makin syedih. Setelah aku tengok kanan-kiri lihat-lihat
suasana, aku baru sadar kalau dua orang yang membantuku menjelaskan tahapan
nonton teater tadi ada di sebelah kiriku.
Malam
itu aku menyaksikan pertunjukan Himawarigumi untuk yang pertama kalinya. Sempat
kecewa karena Viny nggak bisa ikut karena terjebak macet. Tapi pada akhirnya di
lagu keempat dia naik ke panggung. Seneng banget rasanya bisa melihat idola
secara langsung.
Jika melihat mereka rasanya ingin seperti mereka. Manyanyi dan menari di atas panggung bersama dengan eluan para penonton yang memanggil-manggil nama sang idola... Aku ingin menjadi bagian dari mereka.
Saat
lagu pertama, Party ga Hajimaru yo, aku langsung terharu. Air mata perlahan
menetes (emang dasarnya baperan). Kamu benar-benar sampai di sini, Naf. Kamu
benar-benar melihat mereka.
Setelah
membawakan 16 lagu utama plus satu lagu bonus, diselingi dengan pembicaraan
dari mereka. Dilanjutkan sesi hi-toss dengan para member sebagai penutup
pertunjukan sekaligus keluar dari ruang teater. Sedihnya Viny nggak bisa ikut hi-toss karena kondisi kesehatan. Memang sih, selama di panggung aku merhatiin dia agak pucat.
Hari
itu menjadi salah satu hari paling berkesan buatku. Satu paket pengalaman manis
dan tak akan terlupa. Bertemu dengan para member sebagai tujuan utamaku datang ke ibu kota. Mungkin tidak semua momen terekam jelas. Tetapi rasa
bahagiaku saat awal hingga akhir pertunjukan...aku tidak lupa.
Sampai
berjumpa JKT48 Theater. Suatu saat nanti bawa aku kembali lagi ke sana ya?




0 comments:
Post a Comment
Terima kasih telah menjadi salah seorang pembaca jurnalku. Semoga kamu suka. Silakan beri komentar yang baik ya. Biar aku senang. He he ✿
Calon penulis,
Nafi'ah