Saat ini aku
masih terjaga dengan headphone di kepalaku dan menatap layar
laptop dengan bantuan lensa. Kalau tidak karena lagu dari Rachel Platten yang
mengusir rasa sepi, mungkin aku sudah sedari tadi menatap nanar sampai
pikiranku menjadi kosong. Dan gila. Ah terlalu berlebihan kurasa.
Tapi tiba-tiba benakku dipenuhi oleh satu pertanyaan. Satu saja sudah membuatku seperti ini. Ya, namanya juga Nafi’ah. Gadis dengan sejuta mimpi dan pertanyaan.
Pertanyaan yang mungkin jawabannya hanya dapat aku ketahui lewat diriku sendiri.
Tapi tiba-tiba benakku dipenuhi oleh satu pertanyaan. Satu saja sudah membuatku seperti ini. Ya, namanya juga Nafi’ah. Gadis dengan sejuta mimpi dan pertanyaan.
Pertanyaan yang mungkin jawabannya hanya dapat aku ketahui lewat diriku sendiri.
Apakah aku
cukup baik di mata orang?
Maaf jika aku menyebut dia lagi di sini. Karena dia adalah virusnya. Salahkan dia.
Maaf jika aku menyebut dia lagi di sini. Karena dia adalah virusnya. Salahkan dia.
Mungkin
beberapa dari kalian sudah tahu, bahwa aku telah menetapkan tiga teratas yang
menjadi motivasiku melakukan berbagai hal. Pertama Tuhan, kedua orangtua, dan
ketiga dia.
Kalau boleh aku
uraikan beberapa...
Aku berhasil lulus Ujian Saringan Masuk STAN, mengalahkan 150 ribu lebih peserta karena aku mengingat mereka.
Aku berhasil lulus Ujian Saringan Masuk STAN, mengalahkan 150 ribu lebih peserta karena aku mengingat mereka.
Bahkan lari 6
kali putaran lebih di lapangan yang sangat luas untuk tes fisik pun aku sanggup. Karena mereka.
Tes SBMPTN yang
tidak pernah kuharapkan sebelumnya, aku berhasil lolos dan diterima menjadi
mahasiswi Universitas Gadjah Mada. Karena mereka juga...
Tuhan yang
menganugerahiku otak, akal, dan pikiran...
Orangtua ku
yang selalu mendoakan yang terbaik bagi putrinya...
Dan dia yang
selalu aku ingat agar aku bisa membuktikan kepadanya bahwa... aku bisa.
Buat kamu yang telah dipilih dia.
Buat kamu yang telah dipilih dia.
Maaf, kamu yang
lebih dariku.
Atau banyak
dari kalian yang jauh lebih pandai dariku.
Aku hanya
meluruskan hakku. Bahwa setiap manusia boleh mencintai.
Aku bukan
malaikat.
Aku bukan pula
orang jahat.
Tapi kalau dia
yang kumaksud justru menganggapku tak baik. Sampai-sampai semua orang disapa
sedangkan aku tidak...
Aku tidak apa.
Aku harus menerimanya, ‘kan?
Ah, terlalu
naif memang.
Hanya saja, yang perlu aku lakukan sekarang adalah membenahi diri. Mempersiapkan menjadi yang terbaik. Aku tetap akan menjadi aku. Kamu biarlah menjadi kamu. Tak perlu takut dan khawatir mau dinilai bagaimana.
Hanya saja, yang perlu aku lakukan sekarang adalah membenahi diri. Mempersiapkan menjadi yang terbaik. Aku tetap akan menjadi aku. Kamu biarlah menjadi kamu. Tak perlu takut dan khawatir mau dinilai bagaimana.
Aku juga harus
berusaha berhenti menjadikannya motivasi. Karena ternyata jika yang menjadi
motivasimu adalah seseorang. Maka ketika suatu saat dia pergi, semua motivasimu
akan menghilang. Dan aku akan semakin berdosa dan justru memberi cap namaku sebagai
orang yang jahat jika aku terus melakukannya. Karena ada orang lain yang lebih
berhak atas itu.
Tapi hei. Kamu
pikir, dari semua sisi diriku,
benar-benar
tidak ingin melihat lebih?
Atau memang
semua orang begitu? Termasuk dia juga, yang hanya menilai seseorang dari dua
sisi?
Salam dari
gadis yang udah resmi move-on,
Nafi’ah.


0 comments:
Post a Comment
Terima kasih telah menjadi salah seorang pembaca jurnalku. Semoga kamu suka. Silakan beri komentar yang baik ya. Biar aku senang. He he ✿
Calon penulis,
Nafi'ah