Kemarin
adalah hari di mana aku resmi memulai awal tahun 2016. Membuka lembaran baru. Lembaran
kosong yang harus kuisi dengan tinta kehidupan yang memang harus lebih baik
dari tahun-tahun sebelumnya. Dan bila aku menoleh sedikit ke belakang, mengingat
kembali momen-momen itu, 2015 menjadi tahun yang luar biasa buatku. Aku menemukan
beberapa hal baru dalam hidupku. Dan kalau aku boleh bilang, 2015 adalah tahun
di mana aku merasakan segalanya. Kebahagiaan. Kesedihan. Rasa suka. Bahkan kehilangan.
Yang akan menjadi tahun yang tidak akan bisa kulupakan dalam hidup.
Beberapa
pertemuan yang memang sudah direncanakan Tuhan. Mengajarkan banyak hal dan
pelajaran dalam setiap pertemuannya. Membuat aku sadar akan suatu hal. Di
setiap pertemuan pasti ada perpisahan, bukan?
Bertemu
dengan beberapa orang yang membuat hariku lebih ceria dan berarti. Teman kelas
yang mengajariku cara berbagi. Tak perlu kusebutkan satu persatu. Yang jelas
aku sayang mereka. Bahkan aku tidak percaya sebentar lagi kita berpisah. Semuanya
punya mimpi masing-masing. Apasih yang bisa aku lakukan selain mendoakan
kalian? Karena kita hidup di dunia ini demi seseorang.
Tuhan
juga mengingatkanku tentang waktu, hidup, dan kematian lewat seseorang yang
begitu aku cintai. Eyang putriku. Beliau yang menjemput ibuku di rumah sakit
pasca melahirkan aku dan saudara kembarku. Aku tidak begitu ingat siapa yang
digendong beliau selama di mobil dalam perjalanan pulang. Aku atau saudara
kembarku. Yang jelas, beliau menggendong salah satu di antara kami yang masih
merah dan tidak berdaya. Jujur ada rasa penyesalan dalam diriku, yang baru
mulai rutin berkunjung ke rumah beliau semenjak aku duduk di bangku Sekolah
Menengah Pertama. Eyang masih terlihat muda dan cantik. Beliau sangat baik dan
dermawan. Aku sayang sekali, Eyang. Eyang lah yang mengajariku hal-hal baik. Tidak
perlu minder dalam hal apapun. Jadilah gadis yang kuat, berani, dan
membanggakan kedua orang tua. Eyang pula yang mengatakan kalau kelak aku bisa
menjadi seorang pejabat. Menikah dengan seorang pejabat. Tapi jangan sampai
lupa. Kau harus selalu melihat ke bawah. Kau juga harus selalu tunduk kepada
yang di atas.
Aku tidak
menyangka tahun 2015 Eyang kembali pulang. Padahal bulan Juni kami masih
merayakan ulang tahun beliau yang ke 76. Memang saat itu keadaan Eyang sudah
tidak sesehat dulu. Tapi beliau masih tetap cantik. Beliau memang selalu
cantik. Aku sangat ingat. Saat itu beliau minta didoakan semoga lekas sembuh dan bisa melihat aku wisuda.
Dan ini semua dimulai sejak Juli hingga September. Eyang keluar masuk rumah sakit. Lebaran pun kami di rumah sakit. Beberapa kali aku menemaninya. Percayalah, aku juga menyebut namanya di setiap doaku. Tapi takdir berkata lain. Tuhan memanggilnya 9 September 2015. Tidak bisa kujelaskan betapa kehilangannya aku. Mataku sembab hujan air mata di sisi Eyang. Hingga aku tak kuasa nafasku terputus-putus saat membaca Al-Quran. Hari itu aku mencium beliau untuk yang terakhir kalinya. Dan saat itu beliau masih cantik. Masih teringat pesan beliau kepada ibuku, “Tuntunlah anakmu dengan baik dan hati-hati.”
Dan ini semua dimulai sejak Juli hingga September. Eyang keluar masuk rumah sakit. Lebaran pun kami di rumah sakit. Beberapa kali aku menemaninya. Percayalah, aku juga menyebut namanya di setiap doaku. Tapi takdir berkata lain. Tuhan memanggilnya 9 September 2015. Tidak bisa kujelaskan betapa kehilangannya aku. Mataku sembab hujan air mata di sisi Eyang. Hingga aku tak kuasa nafasku terputus-putus saat membaca Al-Quran. Hari itu aku mencium beliau untuk yang terakhir kalinya. Dan saat itu beliau masih cantik. Masih teringat pesan beliau kepada ibuku, “Tuntunlah anakmu dengan baik dan hati-hati.”
Aku sedih
sekali. Mengertilah, aku sedih sekali...
Dan di
tahun inilah aku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang sangat berpengaruh
terhadap belajarku. Dia yang selalu menjadi alasan aku ingin melakukan ini...
melakukan itu. Menunjukkan padanya bahwa aku ini wanita yang pantas ia lihat. Dia
memang pandai dalam pelajaran. Tapi kukira dia cukup egois. Bahkan aku tidak
yakin jika dia mau melihatku.
Aku bersyukur
sekali bisa bertemu dengannya. Walau jika pada akhirnya dia harus pergi? Dia
yang kujadikan motivasi untuk belajar setelah orang tuaku. Agar aku benar-benar
bisa meraih kesuksesan. Biar setidaknya dia mau menoleh. Dan, ya memang. Setelah
lulus dia akan pergi. Menggapai cita-citanya kuliah ke luar kota. Ya walaupun
sedih tapi setidaknya aku bersyukur dia masih ada di tempat yang bisa aku
jangkau. Akankah ini menjadi sebuah
perpisahan juga?
Tapi
begitulah hidup. Memang, hidup seperti roda yang berputar. Kadang kita di atas,
kadang juga di bawah. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Hanya saja, mungkin
Tuhan ingin mengajariku agar menjadi gadis yang lebih kuat. Tuhan telah
mempersiapkan yang terbaik. Aku yakin itu.
Terima
kasih semuanya, orang-orang yang telah memberi warna dalam hidupku. Tidak hanya
satu tahun ini. Keberadaan kalian membuatku lebih mengerti makna kehidupan. Menjadikan
hidupku menjadi hidup. Membuat aku menjadi aku yang sekarang.
Mulai
tahun 2016 ini, aku juga ingin menjadi pribadi yang lebih mudah memaafkan. Memang
yang namanya manusia tidak luput dari rasa khilaf. Kesalahan yang telah
kuperbuat, mohon jangan kalian pendam lama di dalam hati ya? Aku juga telah belajar,
tidak semua orang menyukai kita ataupun berbuat baik kepada kita. Sebaik apapun
perbuatan kita, merekalah yang memiliki hak suka atau tidak. Mereka memiliki
mata dan hati untuk memilihnya.
Tapi
bagaimanapun juga, walaupun mungkin ada banyak yang tetap bersikap tidak baik
padaku, aku tetap ingin bersikap baik kepada mereka. Karena jujur, aku tidak
siap jika harus mendapati rasa penyesalan karena kehilangan.
Kalian
berharga. Sangat sangat berharga buatku.
With
love,
Nafi’ah


0 comments:
Post a Comment
Terima kasih telah menjadi salah seorang pembaca jurnalku. Semoga kamu suka. Silakan beri komentar yang baik ya. Biar aku senang. He he ✿
Calon penulis,
Nafi'ah