Malam…!! (banget ya?) Haha.
Hai. Aku kembali.
Setelah sekian lama.
Akhirnya aku bisa menulis lagi. Rasanya sombong sekali aku lama tidak memberi
kabar. Padahal banyak cerita yang wajib hukumnya kucurahkan kepada kalian.
Entahlah. Enggak mau mencoba
beralasan kenapa aku tidak mau menulis beberapa bulan terakhir. Mungkin memang
sedang sibuk dengan pikiran sendiri. Bagi yang menunggu tulisanku, mohon maaf ya
telah membuatmu menunggu. Apalagi yang ditunggu nggak pasti, kayak aku ini. Hm.
Sangat lama. Tiga bulan itu,
lama, kan?
Seminggu saja lama. Apalagi
jika sendiri. Ya kayak aku sekarang ini. Saat semua orang pulang ke kampung
halaman masing-masing menghabiskan waktu kebersamaan di penghujung tahun 2017.
Diberi kesempatan libur begini aku memilih untuk menenggelamkan diri di Kota
Apel tercinta ini.
Kayaknya tidak mungkin kalau
mau merangkum hidupku tiga bulan ini. Nanti diprotes saking panjang dan
muter-muternya ngalahin jalur KRL. Mungkin kita mulai dari hal yang menyibukkanku
bulan ini saja, ya?
Itu juga kalau kamu mau tau
sih.
Kalau enggak, bacanya sampai
sini aja gapapa kok.
Jadi tunggu apa lagi mari
kita mulai.
20 Desember 2017, sepulang
dari Orientasi Kementerian Keuangan di Bogor, aku langsung mengemasi barangku
menuju stasiun Bojonggede. Tau kan mau ngapain? Yaktul! Naik KRL ke Jatinegara.
Menuju tempat di mana aku ditempatkan untuk bekerja nantinya, di Kota Malang. Waktu
itu perasaan udah enggak karuan. Sedih sudah mau pisah sama taman-teman lah,
takut ketinggalan pesawat lah… Bahkan sudah kebayang enggak bisa pulang Jogja
(yang ini beneran kejadian).
Di sisi lain, aku sangat
bersyukur mendapatkan lokasi penempatan di Malang. Masih di Jawa. Kotanya dingin
pula. Hehe. Masih kebayang betapa mau copotnya jantungku hingga turun ke perut
pas dengar kalau Skep penempatan sudah keluar. Hadeh.
Lanjut.
Dari Bojonggede sampai
Manggarai (anak Jabodetabek pasti paham ini) sih KRL nya sepi. Bahkan aku bisa
dapat tempat duduk. Tapi karena Manggarai adalah stasiun transit…. Jadilah aku
enggak kebagian gerbong di kesempatan pertama. Alhasil aku nunggu kereta
giliran berikutnya. Ada lah lima belas menit. Kereta yang kunanti-nantikan pun
tiba. Tidak berbeda dari kereta pertama. Penuh! Aku harus apa? Tanpa peduli lagi
untung badanku bisa nyelip-nyelip di kerumunan orang di dalam gerbong kereta.
Hal yang paling mengerikan adalah, tidak sedikit orang di dalam gerbong berani nempel
di pintu kereta. Buset. Gila ini gila. Parah. Pokoknya aku harus naik dan
sampai ke Halim Perdanakusuma!
Sekadar informasi. Dan boleh
jika mau membayangkan. Waktu itu aku membawa koper yang cukup besar, dan berat
tentunya. Masih ditambah ransel yang kugendong. Yang juga sama-sama berat.
Untung banyak orang yang
peduli, mau membantu aku mengangkat koperku yang super berat itu.
Singkat cerita, sampailah
aku di Jatinegara dengan keadaan baterai handphone yang lowbat. Untung
sebelumnya sudah order taksi online. Riweuh banget lah hari itu.
Hari itu adalah hari terakhir
aku melihat teman-temanku. Dan memeluk mereka.
Aku mau ke mana. Mereka ke
mana. Dia ke mana. Hehe. Sedih.
Memang benar, kan? Yang
datang akan pergi. Yang bertemu pun akan berpisah.
Tetapi sebenarnya perpisahan
itu tidak menyedihkan. Yang menyedihkan adalah jika habis itu saling lupa.
Ini siapa sih yang naruh
bawang merah di sini?!
Beruntung sekali aku dapat
driver yang mau mengantarku ke bandara. Sebelum handphone ku kehabisan nyawa. Segeralah
aku pinjam USB ke bapak driver untuk menyelamatkan ponsel kesayanganku. Drivernya
baik. Langsung deh kuberi bintang lima.
Sendiri saja ke Halim nya.
Kurang mandiri apa coba?!
Sedih mendengar kelurahan di
perutku sudah demo mau minta makan. Ya iyalah terakhir makan jam 12 siang. Tahan
Naf, tahan…
Dan bersyukur sekali aku
belum terlambat. Pesawatnya juga delay sekitar setengah jam.
Bersyukurnya lagi, di dalam
pesawat, orang yang duduk di sebelahku adalah seniorku! Haha bisa- bisanya. Jadi
enggak sendiri deh. Asik.
Omong-omong, aku jadi bangga
dengan diriku sendiri, yang kuat membawa koper super berat. Naik turun dan
susah payah rebutan gerbong KRL dari Bogor sampai Jakarta Timur lho. Pas koperku
ditimbang di timbangan bagasi pesawat dan jadi tau beratnya, aku kaget sendiri.
Delapan belas kilogram! Hehe.
Selama di perjalanan. Hal yang selalu kupikirkan adalah,
Tahun depan aku sudah berkepala dua. Aku sudah lulus dari pendidikan. Bulan ini juga, aku akan berada di dunia nyata. Tidak boleh ego dengan semau-mauku.
Awalnya aku merasa takut, apakah aku bisa? Tapi sekarang aku merasa bersyukur. Sangat sangat bersyukur. Tuhan membuat semuanya terasa mudah.
Saat sudah sampai di sini, aku ingin diriku bisa menjawab.
Apa yang sudah kudapatkan?
Aku juga ingin mengingatkan diriku sendiri.
Bahwa aku tidak bisa menjamin
perjalananku akan menjadi perjalanan yang mudah.
Tapi aku ingin
belajar kalau tak ada yang sia-sia.
Awalnya aku merasa belum
siap. Tapi setelah aku pikir kalau kita menunggu siap, kita tidak akan pernah
siap. Semua hanya perlu dijalankan dengan persiapan. Apa yang dihadapi
kedepannya tidak ada yang tahu. Yang kita perlukan hanyalah bersiap-siap...
Sejak awal menulis ini,
sejujurnya aku juga masih bingung ingin menulis apa. Terlampau banyak yang ada
di kepala, hingga tak bisa tertuliskan.
Tetapi hal yang terpenting
adalah…
Terima kasih Tuhan. Aku telah
ditempatkan di tempat yang baik. Dalam keadaan baik. Dan bertemu orang-orang
baik.
Yakin saja lah. Mau pergi ke
suatu tempat di mana pun, pada akhirnya akan mengantarkan kita ke rumah, kan?
Senang bertemu denganmu
lagi, Malang
Dan…
Tunggu aku, Yogyakarta
Entah kapan aku tak tahu.
Untuk teman-teman seperjuanganku, Selamat mengabdi!
Salam dari gadis yang walau jauh di mata tapi dekat di hati,
Nafi’ah


0 comments:
Post a Comment
Terima kasih telah menjadi salah seorang pembaca jurnalku. Semoga kamu suka. Silakan beri komentar yang baik ya. Biar aku senang. He he ✿
Calon penulis,
Nafi'ah